Cerita-cerita Mekah dan Madinah (4), lebaran pertama di Mekah

Bagi para perantau seperti saya, Ramadan dan Idul fitri adalah hari-hari ketika rasa rindu ke kampung halaman semakin tidak bisa digambarkan. Bayangan menjalankan shaum dengan segala aktivitas pendukungnya sewaktu kecil seolah-olah menari-nari di pelupuk mata. Ah belum lagi makanan-makanan sedap nan lezat yang selalu tersaji di waktu-waktu itu, sangat cukup untuk membuat kita sedikit melankolis. Akan tetapi, ada saatnya, pulang pada saat Ramadhan atau ied tidak bisa dilakukan, bukan hanya karena harga tiket yang biasanya melambung tidak karu-karuan, jadwal liburan dan pekerjaan menumpuk kadang menjadi penghalang.

Dan begitu pulalah ceritanya. Tahun 2014 adalah tahun-tahun genting masa PhD saya. Hampir 3 tahun menjadi mahasiswa PhD dan saya belum publish paper. Perih memang. Dengan segala daya dan upaya, akhirnya sekitar bulan April saya submit paper, dan bulan Juli dinyatakan accepted! dan bulan Juli itu, bertepatan dengan idul fitri, Idul fitri saya pertama dengan status sebagai seorang istri. Alhamdulillah, mungkin ini salah satu keberkahan dari sebuah pernikahan.

Selain paper yang diterima, Idul fitri pertama dengan suami, Idul fitri kali ini terasa sangat istimewa karena kami juga merayakannya di tempat paling istimewa di muka bumi ini, tempat yang saya selalu ingin kembali ke sana, Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarromah….

Tidak pernah sebelumnya saya merayakan Idul fitri di Mekah walaupun sudah hampir 3 tahun hidup di tempat yang jaraknya hanya perlu 1 jam menyetir saja dari sana. Alhamdulillah, saat itu di akhir bulan Romadhon, tiba-tiba kami memutuskan untuk mencari taksi dan menginap beberapa hari di Mekah. Ah tapi itulah, disanapun hukum penawaran pembelian berlaku. Hotel-hotel sangat penuh dan harganya melonjak berkali lipat di malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Kamipun harus rela menyewa hotel yang jaraknya sedikit jauh dari Alharam yang harganya masih masuk akal, walaupun bisa ditempuh dengan jalan kaki dan hotel menyediakan shuttle. Ada bonusnya juga (terutama untuk saya), karena tepat di samping hotel ada sebuah toko kain yang menjual kain-kain bagus dengan harga sangat murah! Sayapun membeli beberapa meter kain yang harganya hanya sekitar 7 SAR/meter (dibandingkan 20 sar/meter di mall dekat Alharom) yang sekarang sudah jadi baju dan masih awet! hahaaa..kain lagi

IMG_2603

Laser hijau, pengumuman berakhirnya ramadhan

Kami menginap selama 4 hari 3 malam di Mekah, yang sebagian besar waktunya tentu saja kami habiskan di Alharom. Kepadatan Alharom di malam-malam terakhir Ramadhan tidak perlu diceritakan lagi, bahkan saya kadang sholat di lantai yang berbeda dengan suami. Mencari makanpun harus pintar-pintar, disaat masih sepi.Hanya saja, jauh berbeda rasanya menghabiskan Ramadan di Alharam dengan Ramadan di rumah, tentu saja. Tidak ada kesibukan membuat kue atau membeli baju, jangan sibuk, terbersit untuk memikirkannya pun tidak ada. Untuk mengetahui berakhirnya bulan romadhon, kami menunggu pengumuman dari masjid yang sayangnya tidak kami mengerti bahasanya. Untung saja, sejak dibangunnya Zamzam tower, setiap tanggal 1 Syawwal dan 10 dzulhijjah, akan ditandai dengan laser hijau yang bersinar terang keluar dari atas bulan sabit di puncak zamzam tower. Laserpun diarahkan ke berbagai penjuru sehingga memudahkan orang-orang di sekitar mekah untuk mengetahui berakhirnya romadhon. Tidak ada suara takbir menggema apalagi takbir keliling, setelah sholat isya dan makan kami kembali lagi hotel untuk istirahat. Besok paginya, sebelum subuh kami sudah bersiap-siap untuk ke Alharam.

IMG_2626

Menunggu sholat Ied

Awalnya kami kira kami termasuk golongan yang awal, akan tetapi kami salah besar. Masjid sudah sangat penuh meskipun jam baru menunjukan pukul 3 dini hari. Kamipun mengambil tempat, terpisah seperti biasa. Semakin siang semakin ramai rombongan orang berdatangan. Selesai sholat subuh, suara takbir menggema di seluruh penjuru masjid. Merdu dan terasa sangat syahdu. Tak tergambarkan antara rasa bahagia menyambut Id, sedih meninggalkan romadhon, syahdu dengan suara takbir di tengah jutaan orang, dan tentu saja rindu akan kampung halaman. Tidak lama setelah sholat subuh, sekitar jam 6 pagi (atau lewat sedikit), sholat Id dimulai. Selesai sholat dan khutbah, semua orang bubar. Ada yang berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga, ada yang ke restaurant untuk makan,ada yang umroh, bahkan pula ada yang kembali ke hotel untuk tidur, seperti kami.

Kamipun selalu berdo’a untuk ingin kembali kesana lagi dan lagi, terutama di waktu waktu mulia, di hari-hari terakhir bulan Romadhon…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s