Cerita-cerita masa kecil (2) Tumbuh besar dengan buku pinjaman

Selain suka bermain seharian di sekitar rumah atau rumah teman-teman sekolah, dari kecil saya suka sekali membaca, bisa semalaman atau seharian selama wiken. Ajaibnya, saya tidak pernah membeli buku! Kebiasaan membaca berawal dari membaca majalah-majalah berserakan di rumah saudara-saudara saya, dan koran-koran bekas bungkus ikan asin atau bawang merah ketika saya disuruh ke warung. Majalah yang dibacapun sebenarnya sangat tidak cocok untuk usia saya saat itu, anak SD membaca majalah kartini atau femina. Jadilah saya akrab dengan rubric oh mama oh papa, kenal dengan poppy dharsono, atau Pia Alisyahbana..

Beranjak SMP, saya menemukan banyak bacaan menarik di perpustakaan sekolah. Kebanyakan novel-novel tua yang covernya sudah kusam dan lembarannya berwarna kecoklatan. Tetapi disanalah saya mulai berkenalan dengan layar terkembangnya St.takdir Alisjahbana, Salah Asuhannya Marah Rusli, Perawan di sarang penyamun yang saya lupa pengarangnya, di bawah lindungan Ka’bah nya Hamka, salju di Parisnya Sitor Situmorang, dan lain-lain yang sudah saya lupa. Yang terbayangkan dari novel-novel itu adalah keindahan alam di kota-kota di Sumatera barat dan sekitarnya dan betapa indah dan manisnya bahasa Indonesia yang bercampur melayu. Saat SMP itu pula, saya mulai berkenalan dengan majalah-majalah islami seperti Annida yang berisi cerpen-cerpen islami karangan para pemula atau professional. Awal mula saya kenal nama-nama seperti Helvi Tiana Rosa, Asma Nadia, atau Maimon Herawati. Tidak seperti novel-novel karangan para sastrawan itu, cerpen-cerpen di Annida kadang ceritanya mudah ditebak atau terlalu tidak masuk akal. Anak smp sudah banyak menuntut..hehee

Selain Annida, majalah islami yang mulai saya kenal adalah Sabili dan permata, yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah kakak. Edisi permata yang saya ingat adalah tentang buruknya sifat tafdzir/menghambur-hamburkan uang/harta benda, dan tentang haramnya pacaran. Sabili, mungkin agak terdengar lebih sangar, tapi dari sanalah saya mulai mengenal pergerakan-pergerakan islam yang ada di dunia, juga tentang perjuangan tentara Checnya yang sedang membebaskan diri dari cengkraman Rusia. Ada sebuah cerpen yang saya baca di sabili tentang perjuangan Fatimah Alghazali Aljabili, salah seorang petinggi IM yang ditangkap dan disiksa dibawah rezim Gamal Abden Nasr. Cerita itu sangat berbekas di hati saya sampai-sampai saat itu saya berpikiran bahwa yang untuk melawan kezaliman kita harus rela berkorban, dengan apapun.

Jika sedang bosan di rumah, kadang saya bermain ke rumah kakak yang sudah menikah yang tinggal tidak jauh, hanya sekitar 15 menit jalan kaki. Di rumah kaka itu, selalu ada majalah gatra karena saudara suaminya bekerja disana. Dan begitulah, sejak kecil saya terbiasa dengan majalah yang isinya perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dan membongkar rahasia-rahasia para petinggi negara. aih ngeri sekali… akan tetapi, hidup saya juga berwarna karena saya juga membaca majalah gadis. Apalagi jika musim pemilihan gadis sampul tiba. Ah rasanya saya sangat kenal dengan ersamayori aurora yatim yang feminim dan imut atau Ira rayani riswana yang tomboy berambut cepak. Tabloid-tabloid keren versi remaja saat itu sering saya pinjam dari sepupu yang usianya seumuran. Melihat model-model di tabloid kawanku atau hai, rasanya keren sekali dan kekinian.

Semakin hari bacaan saya semakin banyak dan beragam. Kakak saya yang di pesantren sering pulang dan membawa beberapa buku. Kadang, teman dekatnya saat itu juga meminjami saya buku-buku untuk dibaca. Buku-buku bigrafi beberapa tokoh dan sebuah novel tebal adaptasi dari negara luar masih saya ingat dengan detail sampai sekarang. Sebuah buku biografi tentang Kartini yang ditulis dengan apik oleh Siti Soemandari Seoroto, seorang mantan wartawan, sangat berbekas di hati saya (I should say, saya tidak terlalu suka buku Kartini versi Pramoedya Ananta Toer). Buku yang sangat tebal itupun bisa saya rampungkan dalam waktu kurang dari seminggu dan dibaca berkali-kali. Detail kehidupan Kartini mulai dari lahir sampai meninggal dan kehidupan keturunannya setelah itu dibahas dengan bahasa yang halus, penuh kelemahlembutan, tapi mudah diikuti oleh seorang anak kecil. Surat-surat Kartini untuk temannya Estella Zeehandelar atau Mrs. Abendanon juga diterjemahkan dengan sangat apik. Dari sanalah pula saya tau apa itu garwa padmi atau garwa ampil dan betapa system hierarki di zaman dulu sangat mengerikan. Satu lagi buku biografi yang saya ingat adalah biografi Motik, ayahnya Kemala Motik dan Dewi Motik yang terkenal itu. Motik sebenernya bukan nama asli, melainkan nama perjuangan yang sengaja ditambahkan oleh seorang anak muda kelahiran Palembang. Majukan Olehmu Tanah Air Indonesia Kita. Motik berjuang dengan mendirikan beberapa organisasi yang bergerak di bidang ekonomi, demi menggantikan monopoli ekonomi yang dikuasai Belanda dan Cina saat itu. Sepertinya anak-anaknyapun mengikuti jejak yang sama, menjadi pengusaha sukses dan aktif di organisasi2 ekonomi. Membaca biografi orang-orang hebat menanamkan nilai penting dalam hidup saya: untuk hidup kita harus berjuang, tidak mau berjuang tidak usah hidup! hehee.. Buku-buku biografi yang lain juga saya baca seperti biografi Soekarno tulisannya Cindy Adams atau Soeharto yang saya lupa penulisnya, tapi entahlah, karena terlalu sering membaca tentang mereka, saya tidak terlalu tertarik untuk menelaahnya lebih lanjut.

Kembali ke Novel, saat itu novel yang saya baca semakin beragam, mulai dari novel-novel detektif yang tidak terlalu tebal tulisannya Agatha Christie atau Jhon Grisham. Berkenalanlah saya dengan Hercule Poirot dan Miss Marple. Karena bukan orang yang suka dibuat penasaran, saya biasa membaca novel-novel itu dari bab pertama, kemudian bab terakhir, dan kembali ke bab tengah untuk mendapat penjelasan lebih detail. Tidak ada yang begitu istimewa dengan novel-novel itu yang bisa saya ingat detailnya sampai sekarang. Sebuah novel yang membuat saya tergila-gila dari kecil dan tidak pernah lupa sampai sekarang adalah novelnya Alexander Dumas, Monte Cristo. Suatu masa di bulan Ramadhan, saya menghabiskan 2 hari 2 malam di kamar hanya untuk menghabiskan novel yang super tebal ini. Berulang-ulang dibaca masih tetap sama. Cerita tentang Edmond dantes yang miskin, tampan, dan punya tunangan cantik, yang diperdaya oleh temannya sehingga dipenjara dan disiksa. Edmond pun mendapat kebebasannya dengan cara yang tak diduga, dan luar biasanya lagi, mendapatkan harta karun yang menjadikannya sangat kaya raya dan bisa membalas dendam. Apakah karena saat itu saya merasa miskin dan ingin kaya tiba2 sehingga begitu suka dengan novel ini? hahaa… sepertinya tidak. Bahasa yang indah, deskripsi yang sangat detail, dan akhir cerita yang tidak terduga dan diluar harapan pembaca, menjadi daya tarik novel ini. Beberapa tahun yang lalu ketika hobby saya mantengin youtube, tiba-tiba saya menemukan film Monte Cristo. Sayang sekali, ceritanya sudah sedikit berubah, happy ending antara Edmond dan tunangannya, mungkin disesuaikan dengan harapan penonton.

Beranjak SMA, saya kembali dipertemukan dengan sastrawan-sastrwan Indonesia kawakan, lewat novel-novel mereka. Kali ini melalui majalah sastra horizon, yang lagi-lagi saya pinjam dari kakak saya. Dari majalah ini pula saya mulai berkenalan dengan sastra sunda dengan tokohnya yang melegenda, Ajip Rosidi. Sayapun berkenalan dengan penulis sekaliber Ernest Hemingway lewat Salju di Kiliminjaro, yang membuat saya bercita-cita menjadi dokter demi bisa membantu orang, terutama korban perang. Tahun-tahun ini pula saya menemukan buku-buku tentang kekejaman pemerintah terhadap umat islam, seperti buku tentang Tanjung priok berdarah, Talangsari, dan tentu saja tentang GAM. Semuanya dibahas lengkap dalam setiap buku yang saya pinjam dari saudara sepupu. Sayapun mulai kenal dengan 3 sekawan-nya Alfred Hitchok karena teman saya hobby membaca cerita detektif.

Masuk kuliah, saya sedikit sibuk di semester-semester awal sehingga mengurangi intensitas membaca sampai saya menemukan perpustakaan mushola teknik dan mushola teknik kimia. Kebanyakan memang majalah-majalah seperti annida, ummi, atau sabili yang sedikit banyak mempengaruhi pemikiran saya untuk ingin segera menikah setelah lulus! hahaa.. di perpus mushola teknik kimia juga saya menemukan buku tentang berbagai aliran sesat yang ada di Indonesia, salah satunya NII yang pernah saya diajak untuk ikut bergabung di dalamnya. Perkenalan dengan pemikiran Hasan Albanna dan kepribadiannya dimulai dari dua jilid buku yang saya pinjam dari teman kostan. Janganlah ditanya buku-buku seriesnya La tahzan Aidh Alqorni karena saya sering sekali membacanya untuk menghibur diri ketika bapak saya meninggal dan saya terlunta-lunta di Jogja (tsaaah lebay dikit ya). Tapi bagi saya buku itu sangat ampuh karena intinya memberi tau kita untuk tidak terlalu lebay menghadapi hidup, masih banyak yang perlu kita syukuri dibanding yang kita tangisi.

Kebahagiaan saya semakin bertambah ketika pindah ke asrama yang mempunyai perpustakaan yang berisi buku-buku tua dan yang letaknya dekat dengan gramedia. Setiap sabtu malam, dengan seorang teman sekamar saya, kami biasa jalan ke gramedia, keliling mencari buku yang disukai, dan nongkrong membaca standing party sampai pengumuman toko akan segera ditutup terdengar. Kadang, saya mencatat buku-buku apa yang menarik dan merekomendasikan ke teman saya yang hobby membaca juga untuk membelinya, untuk akhirnya saya pinjam juga.

Bertahun-tahun setelah itu saya sudah sangat jarang membaca buku, sampai suatu hari saya menemukan blog menarik tentang travelling di negara-negara stan. Saya jatuh cinta dengan tulisan Agustinus Wibowo dan selalu menyempatkan diri untuk mencari buku-bukunya ketika saya pulang. Buku pertama yang saya beli, sekian puluh tahun setelah saya menyatakan diri punya hobby membaca buku!

Sedikit atau banyak buku-buku itu mempengaruhi pemikiran saya kelak, tapi saya bahagia karena tidak hanya satu jenis buku yang saya baca, sehingga pola pikir saya sangat random..hahaa. Pun saya bisa merasakan dan menikmati keindahan tempat-tempat yang belum pernah saya datangi saat itu. Suatu kebahagiaan tak terlukiskan ketika saya bisa mendatanginya, seolah “berziarah” kembali ke masa lalu. Bukit barisan, Mekah, Paris, ah mungkin suatu saat saya akan juga ke Kiliminjaro atau mengembara ke negara-negara stan seperti mas Agus.

Advertisements

2 thoughts on “Cerita-cerita masa kecil (2) Tumbuh besar dengan buku pinjaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s