Cerita-cerita masa kecil (1) Para penjual makanan legendaris (part 3): Istirahat siang ditemani gehu dan bajigur mang Odih, disambung Kolak Ceu Elah

Waktu saya masih kecil, bermain di sekolah atau tinggal di rumah sama saja menyenangkannya. Bisa bebas berlari kesana kemari, dan kalau lapar atau haus, tukang jualan selalu menghampiri. Setiap pulang sekolah, setelah istirahat dan sholat, saya tidak pernah mau tidur siang. Saat itulah, salah satu penjual makanan favorit saya, Mang Odih, datang berkeliling menjajakan dagangannya. Sama seperti mang Tami, mang Odih tidak memuat dagangannya di gerobak, tetapi dipanggul. Hanya saja, kompartemennya sedikit lebih pendek daripada kompartemen buburnya mang Tami. Jualan mang Odih sederhana saja, beberapa jenis makanan tradisional yang rasanya sekarang sudah jarang ditemukan. Gehu, pisang goreng, rarawuan, katimus, dan bajigur. Yang menjadi speciality mang Odih adalah gehu dan rarawuan, serta bajigurnya. Gehu mang Odih terbuat dari tahu Sumedang diisi taoge atau bihun, seringnya taoge, dibalut dengan tepung beras dan digoreng kering. Campur dengan sambel kacang encer, dua atau tiga buah gehu tidak akan pernah terasa cukup. Adapun wawaruan, makanan yang berasal dari ketela parut dicampur kacang dan diberi bumbu kemudian digoreng, sama renyahnya dengan gehu. Sebagai pelengkap, mang Odih menjual bajigur, minuman hangat campuran dari santan, gula merah, dan sedikit bubuk kopi, yang takarannya harus pas untuk menghasilkan rasa yang mantap. Uniknya lagi, mang Odih menghibur anak-anak dengan membebaskan mereka membuat plastic bajigur sesuai dengan keinginan masing-masing. Ada yang diberi kaki, diberi tangan, atau diberi mata lengkap semuanya. Caranya mudah saja, tinggal menarik-narik plastic yang panjang itu sebelum diisi dengan bajigur.

Mang Odih ini punya seorang istri namanya ceu Elah, dan dua orang anak namanya Oman dan Ocid. Oman adik kelas saya, sedangkan Ocid kakak kelas. Kadang kami tertawa karena nama anak-anaknya menyelaraskan diri dengan nama sang ayah. Tapi setau saya, itu hanya nama panggilan, bukan nama mereka yang sebenarnya. Ceu Elah juga kadang berjualan tetapi tidak terjadwal seperti mang Odih. Ceu Elah biasanya berjualan makanan untuk berbuka di bulan Ramadhan, berkeliling dari rumah ke rumah membawa jualannya dalam sebuah wadah yang dipangku di pinggang dan sebuah keranjang yang dijinjing. Karena untuk berbuka, makanan yang dijual biasanya yang manis-manis, yang paling saya ingat kolak candil dan nagasari (orang sunda menyebutnya papais). Kolak candil ceu Elah ini sederhana sekali, hanya dari terigu yang dibulat-bulat, dicemplungkan ke air mendidih dan kemudian dicampur dengan santan dan gula. Walaupun tanpa tambahan ubi jalar seperti candil pada umumnya, candil ceu Elah ini kenyal dan nikmat, manisnya pas, sedikit gurih dan wangi daun pandan. Suatu hari waktu masih belajar shaum, ceu Elah datang di siang hari dan saya beli kolak candilnya untuk berbuka. Saya simpan di kamar dan ketika waktu ashar saya tidak tahan godaannya. Saya buka plastic kolak candil, saya ambil sebiji dengan kuahnya, dan saya tutup lagi, dengan niat melanjutkan shaum kembali 😀

Lain lagi dengan papaisnya, tidak seperti papais pada umumnya yang hanya diisi pisang atau dihias daun pandan, papais ceu Elah berisi kelapa parut yang dicampur gula merah, kami menyebutnya papais unti. Rasa gurih tepung dan santan bercampur dengan manisnya kelapa parut bewarna merah tua, hmmm… numero uno. Sudah jarang sekali saya menemukan papais seperti ini, mungkin karena proses membuatnya yang terlalu complicated.

Puluhan tahun berlalu, mang Odih sudah tidak berjualan lagi. Selain berkebun, mang Odih menjadi penjaga kuburan di sekitar rumah. Saya baru tau ketika suatu hari pulang ke rumah dan bertemu mang Odih yang datang untuk menagih iuran kebersihan kuburan bapak saya. Ocid dan Oman kedua anak mang Odih saya tidak tau lagi kabarnya, sedangkan ceu Elah, sesekali saya bertemu dengannya. Ceu Elah masih setia berjualan keliling dengan wadah yang sama, hanya isinya yang sekarang berbeda, gorengan dan beberapa jenis keripik.

Bajigur pict in feature image was taken from ramesiamesin.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s