Cerita-cerita masa kecil (1) Para penjual makanan legendaris (part 1): kisah Ceu Juju dan Mang Tami

Saya sedang bosan menuliskan cerita perjalanan karena tiba-tiba menumbuhkan keinginan untuk segera memesan tiket dan pergi, tetapi pekerjaan tidak mungkin ditinggalkan. Marilah kita menulis tentang makanan saja.

Masa kecil adalah salah satu masa paling indah, karena satu-satunya masalah sulit yang dihadapi adalah PR matematika yang susah, itu yang sering saya baca di meme2 yang bertebaran di berbagai social media. Mungkin ada benarnya juga. Saya melewati masa kecil dengan bermain, bermain, bermain, dan jajan-jajan makanan enak dan murah yang ada di sekitar rumah dan sekolah. Sebenernya yang ada di sekitar sekolahpun masih terjangkau dari rumah karena sekolah saya hanya sekitar 7 menit jalan kaki dari rumah. Walaupun lidah sudah mencoba berbagai jenis makanan dari banyak tempat, makanan yang saya makan di waktu-waktu itu tidak terlupakan rasanya sampai sekarang. Tentu saja saya sangat berterimakasih kepada mereka, pahlawan masa kecil saya, yang sudah mengisi hari-hari indah itu.

Tersebutlah Ceu Juju sang penjual lotek legendaris dan Mang Tami penjual bubur ayam terenak sedesa Sekarwangi. Warung ceu Juju tidak terlalu jauh dari rumah, bisa ditempuh dengan 5 menit berjalan kaki, melewati kuburan dan beberapa rumah. Warungnya tidak terlalu besar tapi selalu penuh, terutama dari jam 9 pagi sampai jam 12 siang, saat ceu Juju mulai menjajakan loteknya. Setiap hari, hanya 3 jam saja lotek ceu Juju selalu laris manis, habis. Selain lotek, ceu Juju juga berjualan bakso kampung, bala-bala dan gorengan lain, serta es kelapa manis berwarna merah jambu yang harganya murah dan rasanya luar biasa. Bala-balanyapun istimewa, sedikit berbeda dari bala-bala yang ada di tempat lainnya. Bentuknya agak bulat/silinder, tidak pipih seperti yang lain. bagian luarbala-balanya kering dan renyah, bagian dalamnya lembut, dan ada bonus berupa potongan sepi (jengkol) yang diiris tipis. Dicocol dengan sambel kacang yang pedas dan sedikit asam, tiada yang bisa menandinginya. Sedangkan loteknya, saya harus berjuang untuk menggambarkannya dengan kata-kata. Lotek Ceu Juju ini bumbunya sederhana saja, sama dengan lotek-lotek yg lainnya, hanya kacang tanah dan gula merah, tanpa bawang putih seperti lotek-lotek yang saya temukan di Jogja, yang sedikit membuat berbeda, harumnya perasan jeruk limau yang ditambahkan ke air untuk menyiram bumbu. Sayurannya pun biasa aja, waluh (labu), kangkung, kacang panjang, kol, taoge, dan nangka muda. Nangka muda ini yang menurut saya menambah rasa istimewa dalam lotek ini. Lotek dibuat langsung didepan kita, menggunakan sebuah cobek super besar dan ulekan batu. Dalam satu batch, Ceu juju bisa membuat 2 atau 3 porsi lotek, jika kita memesan dengan tingkat kepedasan yang berbeda, cabe rawit tambahan akan diulek di bagian akhir kemudian diaduk lagi dengan lotek yang sudah siap. Kita juga bisa memesan dengan atau tanpa ketupat, yang pertama lebih enak menurut saya. Bumbu kacang yang pekat dan berlimpah, sayuran yang beraneka ragam, wangi jeruk limau yang segar, ditambah taburan kerupuk kuning dan bawang merah goreng menciptakan orchestra yang sangat luar biasa untuk lotek ceu juju ini. Saya terlalu lebay memang

Usaha lotek ini berjalan sampai puluhan tahun, dari ketika saya belum masuk SD, masih anak kecil ingusan yang menerima order pesanan lotek dari para saudara dengan imbalan bala2 beberapa biji, sampai sekarang ketika saya sudah berada puluhan ribu kilometer dari rumah. Ceu Juju ini seorang ibu rumah tangga, anaknya 3 orang dan semuanya saya kenal karena kami sekolah di SD yang sama. Sekarang, semua anaknya sudah berkeluarga, anak yang tertua meneruskan usaha Ceu Juju., walaupun kadang on-off, tidak buka secara regular seperti di masa kejayaannya dulu. Entah tahun berapa, tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa suami Ceu Juju meninggal. Suami Ceu Juju ini kakaknya seorang penjahit yang jahitannya bagus dan rapi, yang tinggal tidak jauh dari SD saya.

Lain lagi ceritanya dengan Mang Tami tukang bubur ayam. Sebenarnya, ada 3 orang tukang bubur ayam yang saya kenal waktu kecil. Mang Tami dan Mang Uti yang jualananya agak jauh dari rumah, dari warung Ceu Juju belok lagi masuk ke gang kecil, dan Mang Somad yang jualannya masih di kampung yang sama dengan saya. Dari ketiganya itu, favorit saya tentu saja Mang Tami sehingga saya rela berkorban jalan ke kampung tetangga dan mengantri pagi-pagi demi semangkok bubur ayam. Bubur Mang Tami ini menurut saya kekentalannya sangat pas, tidak terlalu encer atau terlalu keras. Tidak berair dan butiran-butiran nasinya sudah tidak tampak dan sangat mudah untuk dikunyah. Bubur ayam disajikan dengan usus yang dimasak dengan sedikit kuah berbumbu kunyit, bawang goreng, seledri, kacang goreng, kecap asin, kerupuk, dan suwiran ayam goreng. Mang Tami menjajakan buburnya bukan di atas gerobak, melainkan di sebuah alat (saya tidak menemukan padanan kata bahasa Indonesianya) yang dipanggul di atas pundaknya, terdiri dari dua kompartemen, yang satu berisi panci besar tempat bubur yang dipanaskan di atas kompor, satu lagi berbagai wadah untuk menyimpan toping bubur. Sama halnya seperti lotek ceu Juju yang laris manis, bubur mang Tami ini larisnya luar biasa. Jam 7 pagi persediaan bubur sudah menipis, jam 8 sudah dipastikan habis, bahkan seringnya Mang Tami tidak perlu berkeliling dengan tanggungannya itu karena pembeli sudah terlebih dahulu datang ke rumahnya.

Puluhan tahun berlalu, saya sudah jarang mendengar cerita tentang mang Tami dan buburnya sampai suatu hari tiba-tiba mendengar berita tentang kepergian istrinya. Tidak lama setelah itu, mang Tami menikah lagi, dengan ceu Juju!!! How cool is that?! Sebuah pernikahan fenomenal dimata saya. Sang penjual bubur dan lotek legendaris bersatu dalam sebuah mahligai rumah tangga yang suci. Tidak banyak yang saya ketahui tentang kelanjutan cerita pernikahan keren itu, hanya saja saya sudah tidak menemukan jualan mang Tami lagi, dan ceu Juju sekarang pensiun, digantikan oleh anaknya. Sayang sekali, rasa loteknya sedikit berubah walaupun semua peralatan yang digunakan masih sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s