Mlipir ke Eropa (3): meeting di Lyon bonus jalan-jalan ke Paris (part 2)

Lagi-lagi saya kembali ke hotel larut malam, dan besoknya pagi-pagi sekali saya mengejar kereta ke Paris. Sampai di Paris masih pagi, sayapun bingung mau pergi kemana. Saya sampai di stasiun Gard du Nord. Saya sms temannya teman yang akan saya tumpangi menginap selama 3 hari di Paris. Rupanya sedang ada acara di KBRI sehingga sang teman itu sedikit lambat membalas sms saya. Sayapun menunggu dengan ngopi-ngopi cantik di café depan stasiun. Setelah sekitar 2 jam, akhirnya saya bisa bertemu dengan temannya teman itu, dua orang mahasiwi asal Indo yang pinter-pinter dan baik hati. Karena mereka masih ada acara di KBRI, saya melanjutkan acara jalan-jalan di Paris sendirian, tanpa tujuan. Awalnya saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan tertua dan terkenal di Paris, hanya untuk lihat-lihat barangkali ada yang bisa saya beli, sesuai dengan kemampuan saku saya. Karena tidak menemukan barang yang sesuai, saya mampir lagi ke kedai kopi di sebrang pusat perbelanjaan itu, demi mendapat internet gratis. Setelah cukup puas, saya kemudian berjalan mengikuti kaki melangkah, sambil mendengarkan music, dan kadang foto-foto. Sampailah tiba-tiba saya perlu ke toilet, pergilah saya ke tujuan yang jelas dan bertemu hardrock café. Numpang ke toilet dan membeli kaos titipan seseorang. Selesai urusan toilet, saya terus berjalan dan akhirnya menemukan Louvre yang terkenal itu. Ragu antara masuk atau tidak, akhirnya memutuskan untuk tidak jadi masuk melihat panjangnya antrian. Menyebrangi Louvre, saya kemudian berjalan-jalan di sebuah taman yang besar. Duduk-duduk manis sambil melihat orang berlalu lalang, ada yang berfoto, jogging, atau sekedar duduk seperti saya. Tiba-tiba langit mendung, sebelum hujan saya melanjutkan jalan dan menemukan minivan penjual crepe. Lumayan untuk mengisi perut. Perjalanan dengan jalan kaki berhenti ketika saya menemukan stasiun yang salah satu tujuannya melewati menara Eiffle. Tanpa ragu sayapun pergi. Di sekitaran Eiffel, lagi-lagi saya hanya duduk manis. Tiba-tiba seorang anak kecil berwajah arab keturunan dengan dandanan yang sedikit kusam mendatangi saya, menawarkan sebuah proposal sumbangan untuk anak-anak yatim. Lumayan meyakinkan karena banyak yang mengisi dan tanda tangan. Sayang sekali si anak itu mendekati orang yang salah karena modus seperti ini sudah sangat banyak di Indonesia. Pak polisi kemudian mendekat ketika anak-anak itu masih bersama saya, dan merekapun langsung berlari. Tidak banyak yang bisa dilakukan sekitaran Eiffel, apalagi menjelang hujan, dan saya tidak berhasrat untuk mengantri panjang demi menaiki Eiffel. Akhirnya saya kembali ke tempat janjian bersama teman yang sudah menunggu selama berjam-jam karena saya lupa waktu. duh…

968f353e-6dde-483c-9c84-93ad55cd5cfb

Paris trip in one frame

Selama 3 hari di Paris, yang saya lakukan hanya jalan-jalan sendiri, menikmati dinginnya udara Paris dan mencari makanan yang aman (halal) untuk dimakan. Hanya satu hari saya sempat ikut dengan teman itu untuk mengunjungi Paris air show yang diadakan 4 tahun sekali. Acaranya diadakan agak sedikit keluar dari kota Paris, tapi disediakan bis-bis khusus. Cukup menarik bagi saya yang hobbynya menonton acara air crash investigation dan bercita-cita menjadi seorang aviation engineer…

Hari terkahir di Paris saya benar-benar tidak tau mau kemana akhirnya pergi ke stasiun lebih awal dan jalan-jalan disekitar stasiun. Sore hari saya meninggalkan Paris menuju Lyon dan sampai disana malam hari, untuk kemudian terkejut karena tidak ada penjual makanan yang buka padahal saya kelaparan. Karena bandara di Lyon kecil, sayapun terus berkeliling dan semua tempat sudah tutup, hanya vending machine yang bisa diharapkan. Ternyata di Eropa tidak ada penerbangan di malam hari, sehingga tidak ada kegiatan sama sekali di bandara. Hanya ada beberapa orang yang menumpang tidur untuk menunggu penerbangan keesokan harinya. Sayapun terima nasib, duduk manis di sebuah sudut ruangan bandara. Tiba-tiba seorang mas-mas mendekati saya. Berperawakan tinggi, berwajah aljazair atau maroko, si mas mengenalkan diri sebagai orang itali keturunan Tunisia. Akhirnya kamipun mengobrol dengan bahasa alakadarnya. Setelah tau saya muslim dan orang Indonesia, si mas itu kemudian bertanya ingin meyakinkan kalau saya bukan Syi’ah.. duh! Si mas2 itupun bercerita dia baru pulang dari Lyon karena bekerja disana dengan ayahnya yang sedang tertidur di pojokan yang lain. Bercerita betapa susahnya mencari pekerjaan di Italy walaupun negaranya sangat indah. Oh iya, di Italy dia tinggal di Verona. Setelah capek mengobrol, tiba-tiba saya bergumam kalau saya lapar. Si mas itupun menawarkan makanannya tapi tetap saja saya tidak berani memakannya. kemudian dia beranjak menuju vending machine untuk membeli makanan, dan saya melarikan diri ke toilet. hmm.. aneh memang, tapi namanya juga jaga-jaga. Saya kemudian ganti baju, dan sholat subuh untuk kemudian check in dan terbang ke Frankfurt. Tiba di Frankfurt saya langsung mencari tempat makan, sarapan, kemudian gosok gigi dan cuci muka. Karena ngantuk tidak bisa ditahan lagi, akhirnya saya tidur di sebuah kursi panjang di bandara, tidak menghiraukan lagi orang-orang yang lewat lalu lalang. Tidur nyenyak beralaskan tas sambil menunggu penerbangan berikutnya ke Jeddah beberapa jam kemudian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s