Cerita-cerita Mekah dan Madinah (1), umroh pertama

Hari-hari awal di kampus baru, saya tidak punya teman kecuali satu teman Indonesia yang saya temukan namanya di sebuah blog, mbak-mbak resepsionis di student center, 4 orang postdoc dan 2 mahasiswa di lab, dan tentu saja pak bos. Masih dengan semangat 45, ketika mahasiswa baru yang lain heboh berpartisipasi dalam acara orientasi kampus, saya sudah sibuk experiment di lab. Kadang satu atau dua kali saya ikut acara orientasi, tentu saja ketika mendapat email yang berlabel wajib datang!

Tidak terasa seminggu sudah sejak pertama kali menginjakan kaki di tengah gurun di tepi laut ini, teman Indonesia saya tiba-tiba menawarkan untuk umroh. Kebetulan dia akan menyewa taksi untuk menjemput seorang temannya, dan masih banyak space kosong. Tanpa pikir panjang sayapun mengiyakan dan segera mencari panduan tatacara umroh. Berangkatlah kami bertiga dengan supir taksi. Waktu berangkat taksi dari kampus mengantar sampai belakang Alharam, kami diturunkan persis di belakang Safa Marwa. Kamipun masuk lewat pintu belakang dan memutari masjid untuk sampai ke depan Ka’bah, persis di depan hajar aswad dan tanda hijau dimulauinya Tawaf. Teman saya menunjukan tatacara Tawaf kemudian pergi untuk menemui temannya. Antara haru, sedih, dan bahagia bercampur aduk ketika pertama kali melihat ka’bah. Bagaimana tidak, akhirnya berada di tempat yang menjadi qiblat sholat selama 2 dekade terakhir hidup saya. Sayapun terus berputar mengitari ka’bah ditengah teriknya matahari, sambil berdzikir, dan ingin menangis…

Selesai tawaf, teman saya datang lagi dan menunjukan bahwa saya harus sholat di depan maqom Ibrahim dan meminum air zamzam, kemudia berdo’a. Duh tak terbayangkan lagi rasanya saat itu, berdo’a persis di depan multazam.

Sayapun melanjutkan sa’I yang ternyata cukup melelahkan. Selesai sa’I, kami berencana pulang ke kampus sebelum magrib dan ternyata teman saya sudah membawa lagi 2 orang teman yang lain. Karena taksi dari kampus tidak mau menunggu di Alharam, kamipun harus naik taksi local mekah menuju masjid Aisyah di Tan’im. Masjid Aisyah ini berada persi didepan gerbang dimulainya daerah Haram di Mekah. Sempat terjadi tawar menawar, bukan hanya karena harga, tetapi karena perempuan tidak boleh duduk di kursi depan, berdasarkan peraturan di Mekah. Sedangkan teman saya dan 2 temannya yang lain adalah laki-laki. Akhirnya kamipun mengalah, dan saya duduk di belakang. Kami tiba di masjid Aisyah menjelang magrib, semua laki-laki pergi ke masjid bagian laki-laki, dan saya menunggu di depan. Tiba waktu magrib, tiba-tiba seorang ibu-ibu tinggi besar berkulit hitam menawarkan saya kurma, untuk berbuka. Saya sempat bingung karena yang saya lihat dari tadi, si ibu-ibu tersebut nampak seperti (maaf) seorang peminta-minta yang menunggu pemberian orang. Tanpa diduga, ketika waktunya berbuka, beliau mau membagi makanannya dengan saya yang sedang duduk benngong sendiri. Kadang orang yang sering merasa kekurangan, bisa jadi lebih pemurah dibanding yang terbiasa serba kecukupan.

Kamipun akhirnya kembali ke kampus, kali ini saya boleh duduk di depan. Di tengah jalan seorang teman menelpon lagi minta dijemput dengan taksi yang sama, dan kami sukses ditegur security kampus karena jumlah penumpang mobil melebihi kapasitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s