Penerbangan panjang pertama, nikmatnya menjadi anak raja

Seminggu di rumah rasanya memang kurang, akan tetapi sebulanpun akan selalu tidak cukup. Sepulang dari Malaysia, saya liburan di rumah selama seminggu untuk kemudian berangkat lagi ke Saudi Arabia. Entahlah saya yang sok jagoan atau memang suka kerja, atau terdesak karena butuh, nyaris tidak ada waktu libur setelah lulus master. Setelah mendapatkan visa ke Saudi yang ceritanya berliku itu, saya langsung menghubungi pihak onboading kampus dan dipesankan ticket Jakarta-Jeddah dengan pesawat Garuda. Berangkat sebelum subuh saya hanya diantar sepupu naik motor sampai Cibadak. Dari Cibadak saya naik bis menuju Bogor untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan bis Damri menuju bandara. Sesampai di bandara dua orang teman saya (tidak saling kenal) menunggu dan memberi kenang-kenangan..how sweet is that. dan merekapun heran karena saya hanya pergi sendiri tanpa diantar keluarga. Ah lagi-lagi saya lupa, normalnya orang yang akan bepergian lama dan jauh akan diantar keluarganya.

Karena pesawat menuju Saudi, hampir 90% penumpangnya adalah Jemaah umroh. Setelah bosan nonton film selama 9 jam, akhirnya saya sampai di terminal Jeddah. Turun dari pesawat kami langsung diarahkan naik bis ke sebuah terminal. Selain nonton film, selama akhir-akhir di pesawat saya sebenernya sedang menderita sakit, penyakit yang sudah bertahun-tahun yang hanya bisa dinikmati oleh para wanita yang beruntung, sakit bulanan. Sesampainya di terminal saya langsung bolak-balik toilet, dan memberanikan diri meminjam minyak kayu putih yang dibawa seorang ibu-ibu jamaah umroh. Karena mengantri lama di toilet, saya tidak bisa menemukan si ibu Jemaah umroh dan tidak bisa mengembalikan minyak kayu putihnya. Setelah kuat berjalan, saya mendekati bagian imigrasi untuk kemudian disuruh kembali mundur dari antrian tanpa saya tau kenapa. Ya mereka pake Bahasa arab, saya hanya mengerti Bahasa Sunda. Akhirnya ada seorang mas2 yang memberi tau kalau terminal ini adalah terminal khusus umroh. Jadilah saya menunggu bis berikutnya yang akan mengantarkan kami ke terminal untuk penumpang selain Jemaah umroh.

Untuk warga kampus yang baru datang, kampus baru saya ini sangat perhatian. Sebelum berangkat tim on boarding saya memberi tau bahwa akan ada yang menjemput saya di bandara, menunggu mulai sebelum imigrasi. Sayang sekali, hp saya lowbat (bahkan mati sama sekali) sehingga saya tidak bisa memberitahunya kalau saya salah terminal sehingga beliaupun menunggu selama 3 jam. Begitu tiba di terminal yang seharusnya, segera saya mendekati semacam meja resepsionis yang bertuliskan kaust. Seorang bapak2 menunggu saya disana dan membimbing saya menuju imigrasi. Karena dibimbing bapak tersebut, saya bisa memotong antrian imigrasi yang begitu mengular panjang (salah satu nighmare di imigrasi Jeddah). Tiba-tiba saya sudah lewat meja imigrasi, nyelonong begitu saja, serasa anak raja euy! Akan tetapi, karena waktu magrib dan berbuka puasa, semua petugas istirahat dan berbuka (tanpa mempedulikan orang-orang yang antri) dan sayapun tertahan di pintu berikutnya, pintu cek cap imigrasi, yang hanya saya temukan di bandara ini. Sayapun duduk lemah lesu karena menahan sakit dan tiba-tiba seorang ibu-ibu memberi saya sekotak makanan berisi kurma, roti, dan yogurt. Kali ini saya tidak curiga dan langsung saya lahap makanannya, walaupun tidak shaum saat itu. Tiba-tiba seorang mas-mas dengan wajah khawatir (dan lelah) menghampiri saya. Ternyata mas itu adalah mas yang bertugas menjemput dan menunggu saya di luar. Ntah dengan negosiasi macam apa sehingga si mas itu bisa masuk ke area sebelum bagasi. Setelah basa basi masnya langsung membantu saya mengambil bagasi dan terkejut menemukan saya hanya membawa satu koper!

Sebagai anak kampung yang biasa naik bis atau paling banter naik mobil kancil sewaan di bandar U, dijemput dengan mobil sedan ford yang kinclong dan luas banget didalamnya merupakan sebuah kemewahan bagi saya. Sekitar 1 jam kemudian kami sampai di kampus yang jarak dari gerbangnya ke dalam kampus entah berapa puluh kilometer. Bahkan gerbangpun ada dua dan dijaga oleh security campus dan national guard alias tentara yang berseragam lengkap dengan senjata laras panjangnya. Tentu saya kaget!

Sayapun diantar ke hotel di dalam kampus untuk menerima kunci rumah dan mendapatkan sekotak makanan besar. Dari hotel saya diantar ke rumah baru. Rumah baru yang luas dan bersih, tapi perhatian saya langsung ke kotak makanan besar karena sangat lapar. Isinya dua buah sandwhich ukuran jumbo, saya hanya bisa menghabiskan setengahnya. Setelah bongkar-bongkar koper yang isinya hanya baju dan peralatan mandi, saya langsung memberi tau orang2 di rumah kalau saya sudah sampai, dan tentu saja mengemail pak bos saya. Dan kamipun bertemu untuk pertama kalinya keesokan harinya, setelah saya dari student center dan kesasar muter muter di sekitar building 3. Pak bos hanya memakai celana pendek dan memakai sandal jepit, kemudian mengantar saya pulang menyusuri jalanan yang sangat panas di kaust karena saya ga tau jalan pulang. Semua rumah disini sama bentuk dan warnanya.

Featured image: Bandara King Abdul Azis Jeddah, courtesy of dream.co.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s