Mlipir ke Eropa (2): pindah tidur ke Cambridge

Sekitar tahun 2012, ada dua orang teman yang saya kenal baik yang tinggal di Inggris. Satu teman perempuan di kaust yang sedang intern di Cambridge, dan satu lagi teman laki-laki waktu di Malaysia yang sedang PhD di London. dan saya, anak baik yang selalu ingin mengunjungi teman-temannya..hehee

Awalnya saya tidak punya rencana untuk ke Inggris, akan tetapi, ketika melihat harga tiket pesawat Munich-London hanya sekitar 1 juta, dengan British airways pula, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan trip dari Munich ke London. Berangkat malam hari dari Munich, saya sampai di London sedikit larut malam. Untunglah teman saya yang di London baru saja mengantar temannya yang lain ke bandara sehingga bisa menunggu saya juga. Kamipun naik bis menuju kos-kosannya, semacam flat terdiri dari beberapa kamar yang semuanya diisi oleh orang Malaysia. Lagi-lagi untunglah saya tidak sendiri karena malam-malam naik bis di London ternyata banyak yang isinya orang-orang sedikit mabuk pulang dari pesta.

Di kosan teman itu, saya dititipkan ke teman perempuannya. Seorang mahasiswi Malaysia yang sedang PhD juga di kampus yang sama. Keesokan harinya, saya dan teman berkeliling di London, mampir ke rumah makan Malaysia dekat dengan Malaysian embassy. Selesai makan, kami masih berkeliling karena saya perlu mengeprint tiket dan mengambil uang GBP yang ternyata sangat kurang. Tidak menunggu lama kami kemudian pergi ke terminal bis yang akan mengantar saya ke Cambridge, mengunjungi teman saya yang satunya lagi.

Perlu sekitar 2 jam perjalanan dengan bis dari London ke Cambridge. Saya ingat sekali tampang pak supir bis yang seram, berambut panjang, dan bertato, tapi ternyata sangat baik dan helpful. Sepanjang jalan pemandangan yang dilewati indah sekali, bukit-bukit hijau, hamparan kebun gandum, dan rombongan ternak sapi yang sedang merumput. Ditambah dengan langit bersih berwarna biru, persis seperti di gambar buku-buku cerita atau di film shaun the ship, I wanna come back there! hahaa

a629eae5-f9f8-413c-8dcf-ec528e98257e

The beauty of Cambridge

Sebelum sampai di Cambridge, teman saya sudah mewanti-wanti dimana saya harus turun. Akan tetapi, ternyata hari itu ada sebuah event penting, sehingga banyak kendaraan yang dialihkan. Sayapun kebingungan bagaimana memberi tau teman saya karena hp saya lowbat, sama sekali tidak bisa dipakai. Alhamdulillah, tak lama setelah turun bis, teman saya menghampiri dengan senyum manisnya, sayapun tidak jadi kesasar. Kami langsung menuju salah satu masjid di Cambridge karena saya belum sholat. Tidak jauh dari Masjid, kami melihat kerumunan orang yang sangat ramai. Ternyata, api olympiade akan segera lewat dan semua orang menantikannya. Kamipun ikut dalam kerumunan dan menyaksikan api olympiade dibawa berlari oleh seorang bapak-bapak mantan atlit yang saya lupa namanya, diikuti rombongan macam-macam seperti sebuah parade. Saya selain menikmati juga kedinginan, karena bayangan saya Juli adalah summer. Tapi ternyata summer di Inggris jauh dari bayangan musim panas, hujan dan dingin. Tapi tetap saya suka Cambridge, dinginmah bisa pinjem jaket..weheeee

Selesei melihat parade dan berbagai atraksi di lapangan, kami akhirnya kembali ke tempat teman untuk menginap disana. Jalan-jalan di Cambridge sangat kecil, tapi cantik. Dikelilingi bangunan-bangunan tua, rumah-rumah dsini dibangun seperti menyelaraskan diri dengan bangunan tua yang ada. Rumah-rumah mungil cantik berbata merah. Rumah tempat saya menginap berlantai dua, dengan sebuah halaman belakang yang lumayan luas. Pemilik rumahnya sepasang suami istri muslim keturunan Arab dengan dua orang anak, satu anak perempuan cantik berambut ikal berumur 6 tahun, dan satu bayi laki-laki. Keesokan harinya kami diberi sarapan jacket potato dan teh manis. The best jacket potato ever! Kentang yang lembut di dalam dengan kulit yang kering dan renyah di luar, dimakan ketika pagi hari, hujan rintik-rintik, sambil memandangi taman belakang rumah. Jadilah saya menghabiskan seharian bermalas-malasan dan tidur di sebuah kamar di Cambridge, sementara teman saya kerja di labnya.

e1001e4e-04ae-4249-a4ee-60f2b1a4c542

London in one frame

Hari berikutnya saya dan teman pergi ke London lagi, kali ini naik kereta. Harganya 2x lipat lebih mahal dari tiket bis tapi waktu yang ditempuh lebih cepat, 1 jam saja dari Cambridge ke London. Di London kami mengunjungi beberapa tempat seperti picaddily circus dengan bangunan-bangunan unik di sekitarnya termasuk Ripley’s yang kami tidak masuk kedalamnya karena harus bayar, jalan ke sekitaran big ben dan ke rumah nenek (baca: Buckingham palace), jalan ke British museum yang ternyata sangat luas dan, gratis! makan di restaurant Thailand di sekitar british museum, dan mencari masjid yang jaraknya lumayan jauh sampai perlu naik kereta. Sepanjang jalan, kami diiringi hujan, tanpa payung…

Malam harinya kami kembali lagi ke Cambridge. Setelah istirahat, tidur, besok paginya saya kembali lagi ke London! hahaa… tapi kali ini sendirian karena teman saya harus masuk lab lagi. Tujuan ke London kali ini untuk belanja. Awalnya kamera, tetapi jadi beranak pinak sampai saya harus membeli koper lain karena tidak sanggup untuk membawa belanjaan dengan dijinjing. Ah dan disini pula saya membeli kamera pertama saya. Telat banget memang dibanding teman-teman yang lain. Selama seharian belanja dan muter-muter di Hummersmith, saya kebingungan mencari tempat sholat. Akhirnya pura2 nyobain baju dan sholat di fitting room.

Malamnya saya kembali lagi ke Cambridge dan tidur lagi. Besoknya jalan-jalan di sekitaran kampus Cambridge yang ternyata sangat cantik. Sungguh saya sangat mupeng ingin kuliah disana. Kami mengunjungi sebuah pasar dan disana saya membeli sweater cambirdge, lumayan mahal untuk ukuran sweater tapi karena ada bordiran Cambridgenya, sayapun menyerah. Selesai keliling2, teman saya kembali ke lab, saya kembali keliling di city centernya Cambridge. Tidak terlalu nampak seperti city center karena tidak terlalu besar tapi menurut saya disitulah keunikan Cambridge. Kota kecil, rapi, tua, terawat, tapi hidup. Sore harinya ketika teman saya pulang dari lab, kami jalan-jalan lagi, kali ini tak tentu arah. Saya hanya ingin melihat bagaimana desa-desa disekitar Cambridge. Cantik! sangat cantik…

Selesei berkeliling, kami kembali ke rumah sewa teman saya, dan tidur… tidur di Cambridge diiringi rintik-rintik hujan nikmat sekali rasanya…bagi seorang mahasiswa yang menghabiskan hari-harinya di tengah gurun!

img_2564

Welcome to Emirates stadium!

Tibalah saatnya saya meninggalkan Cambridge dan London, kembali ke Thuwal. Dari Cambridge saya berangkat sekitar jam 9, sampai jam 10 di London. Karena flight saya sore, masih ada waktu untuk keliling London dan mengunjungi markas tim bola favorit saya waktu masih muda: Arsenal! Karena koper saya beranak jadi 2, akhirnya saya menitipkan di counter, hanya 1 koper yang besar yang saya titipkan karena harganya mahal. Setelah menitip koper saya langsung mencari kereta menuju Arsenal. Cukup kaget ketika sampai di stasiun karena ternyata arsenal berada di sekitar residensial area yang tidak terlalu ramai. Kali ini saya bawa uang cukup untuk tidak mengulangi kesalahan waktu di Munich. Sayapun masuk ke Emirates stadium dan foto-foto sendiri sambil geret-geret koper. Tiba-tiba serombongan mas-mas mendekati dan meminta saya untuk mengambil foto mereka, in return, saya pun bisa difoto dengan latar belakang emirates stadium. Setelah cukup lama bermain di emirates, saya baru sadar kalau penerbangan saya sebentar lagi, sekitar 2 jam. Jadilah saya berlari ke stasiun, naik kereta, mengambil koper, dan meluncur ke Bandara. Sempat khawatir karena antrian luar biasa panjang di bandara, akhirnya sayapun teriak-teriak sambil menunjukan tiket bukti keberangkatan yang tinggal sebentar lagi. Akhirnya dapat by pass, dan bisa sedikit tenang setelah melewati semua security dan imigrasi. Sempat keliling mencari tempat sholat yang ternyata namanya multi purpose prayer room, siapa saja boleh beribadah disana. Sayapun sholat. Sebelumnya sempat heran melihat ibu-ibu sholat menggunakan gumpalan tanah berbentuk kotak kecil sebagai alas kepala dengan gerakan yang sedikit berbeda dengan gerakan sholat yang saya tau selama ini. di bagian laki-laki, saya terkejut lagi karena sepintas melihat bapak-bapak memakai penutup kepala kecil seperti peci nyangkut, yang ternyata penutup kepala orang yahudi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s