Kisah panjang mendapatkan visa Saudi, keajaiban di bulan Ramadhan

Bagaikan kisah Sandy Nayoan di film si Midun, beginilah cerita KAUST dimulai, sengsara membawa nikmat. Lika-liku kehidupan kaust berawal dari proses membuat visa yang panjang dan melelahkan, melelahkan jiwa dan raga, menguras emosi tapi tidak menguras kantong karena semua biayanya direimburse. Yang terakhir, cukup sedikit menenangkan.

Salah satu keunikan administrasi di Saudi, adalah prinsip “jadi, maka terjadilah”. Semuanya serba dadakan. Hidup saya memang kebanyakan serba dadakan, tapi kalau dadakan untuk mengurus visa, ampun saya ga mau lagi. Berawal dari pengumuman dari admission yang mendadak dan saya hanya diberi waktu 2 minggu untuk mendapatkan visa. Sebulan sebelumnya, ketika pengumuman penerimaan belum resmi, saya sudah bertanya (atas perintah pak bos) ke Kedubes KSA di KL tentang syarat-syarat mengurus visa bagi pelajar. Apakah perlu legalisir ijazah, surat keterangan kelakuan baik, dsb. Jawabannya singkat, oh tidak perlu. Setelah resmi diterima, sayapun kembali ke Kedubes KSA untuk menanyakan hal yang sama dan menemukan diri saya dalam keadaan terkejut dan mengomel ke mbak-mbak penjaga counter. Syarat untuk apply student visa ternyata luar biasa banyak dan hampir mustahil untuk dipenuhi dalam waktu 2 minggu saja. Ketika saya konfirmasi lagi kenapa jawaban sekarang beda dengan sebulan sebelumnya, si mbak simply menjawab karena dia mengira saya akan apply visa kerja, ok mbak, mungkin wajah tkw sudah jadi bawaan saya, tapi mbak juga harus periksa ke dokter tht sekali-sekali.

Maka dimulailah edisi bolak-balik Kampus-KL, literally pergi sebelum subuh dan pulang di sore hari karena saya juga masih terikat kontrak kerja. Pulang dari KL malam hari saya gunakan untuk membuat proposal, salah satu tugas saya di pekerjaan baru ini. Untunglah jam kerja sedikit flexible. Back to to the visa stories. Karena banyak syarat yang tidak bisa saya penuhi, saya disarankan untuk meminta advice langsung dari atase pendidikan KSA, yang sayangnya berada di lokasi yang berbeda. Kedubes KSA berada di daerah Ampang, sedangkan kantor atase pendidikan berada di daerah tun razak, dekat dengan kedubes Indonesia. Datanglah saya kesana untuk mengadu. Pertama tiba disana saya terkejut karena tukang bersih-bersih di atase pendidikan KSA datang dan pergi bawa mobil sendiri, ish… Setelah clearance di bagian security, seorang staff menemui saya dan malah mengajak saya ngobrol. Pertanyaaan2 saya tentang bisa atau tidak atase pendidikan membantu proses pembuatan visa tanpa submit ijazah dan surat kelakuan baik hanya dijawab dengan InshaAllah, InshaAllah… tidak ada yang salah dengan jawaban itu, tapi InshaAllah orang sana kadang membuat saya mengernyitkan dahi, berpikir keras. Sayapun pulang dari KL, dari atase pendidikan dan kedubes KSA hanya dengan jawaban si bapak staff itu, InshaAllah

Setelah mendapat surat undangan VISA dari KAUST, saya kembali lagi ke atase pendidikan di KL. Dalam rentang waktu menunggu surat undangan visa itu, saya masih bolak-balik KL untuk mengurus terjemahan beberapa dokumen ke dalam Bahasa arab dan daftar enjaz (semacam entry ke portal khusus Saudi untuk daftar visa) ke agen yang sudah kerjasama dengan kedubes Saudi. Kantor agen itu lumayan jauh, walaupun berada ditengah-tengah, diantara kedubes dan atase. Bolak-balik 3 tempat itu saya lakukan selama hampir 2 minggu, oia ditambah bolak balik 2x ke rumah sakit untuk medical check up. Kembali ke atase pendidikan, saya masih diminta surat keterangan lain. Walaupun sudah lulus, saya belum mendapatkan ijazah karena wisuda dilaksanakan setahun sekali di bulan Oktober, dan ijazah hanya bisa diberikan saat itu. Saya lulus April dan harus berada di Saudi pertengahan Agustus. Akhirnya saya kembali ke kampus meminta surat keterangan lulus. Belum selesei, ternyata diperlukan beberapa copy surat keterangan lulus yang harus dilegalisir juga. Kembali lagi saya ke kampus, kembali lagi saya ke kantor atase. Saking seringnya datang kesana, saya sudah dibebaskan dari security clearance karena bapaknya sudah kenal. Feels like home? hehee… Setelah menyerahkan surat undangan visa dari kaust (dari MOFA tepatnya) dan surat keterangan lulus dari kampus, ternyata masih ada dokumen lain yang perlu saya submit. Sabar..sabar… orang sabar suaminya ganteng… Pihak atase meminta saya submit dokumen resmi dari kaust yang menyatakan saya sudah diterima disana, disahkan oleh president kaust, oleh departemen pendidikan Saudi, dan dikirim langsung by fax ke kantor atase… saya kembali pulang dan menghubungi pak (calon) bos dan boarding advisor saya di kaust. Mereka agak sedikit kebingungan dengan format dokumen yang dimaksud sehingga perlu waktu yang lama untuk menyiapkan. Saya hanya menunggu…

Suatu hari, di pagi buta tanggal 1 Ramadhan, saya nekat pergi ke KL untuk mendatangi kantor atase pendidikan, tanpa dokumen yang mereka minta. Bismillah, modal nekad dan tawakkal. Karena masih pagi dan kantor baru buka, belum terlalu banyak staff yang masuk. Ketika berada di ruang tunggu, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak tua umur 50an, berambut putih, berjanggut putih, berpenampilan rapi dan bersahaja menghampiri saya dan menanyakan apa keperluan saya. Berceritalah saya, mengharu biru, dengan menunjukan surat undangan visa dari MOFA (kementrian dalam negri KSA). Setelah beberapa saat, si Bapakpun terkejut, bagaimana bisa staffnya tidak mengijinkan saya mendapatkan visa setelah menunjukan surat ini. Akhirnya beliau mengajak saya menuju kantornya dan mengatakan saya bisa mendapatkan visa tanpa perlu submit dokumen bla bla bla yang diminta sebelumnya. Saat itu juga si Bapak menyuruh staffnya untuk mengirimkan fax ke kedubes yang isinya kurang lebih menyatakan: berilah anak ini visa tanpa syarat, jangan buat dia menderita lagi, hidupnya sudah sangat merana…eaaaaa Alhamdulillah, saya bahagia tak terlukiskan

Bapak atase yang baik hati kemudian menyuruh saya pergi ke kedubes dengan membawa surat undangan visa dan memberi tau tentang fax dari atase ke kedubes. Pergilah saya kesana dan menghampiri mbak-mbak penjaga counter, kali ini disambut senyuman manis, bukan wajah masam seperti biasanya. Si mbak kemudian mengatakan ada masalah dengan jaringan sehingga saya tidak bisa mendapatkan visa sore itu, masih harus menunggu selama 2 hari. Apalah arti menunggu 2 hari setelah perjuangan mondar mandir selama 2 minggu. Lumayan waktu 2 hari bisa digunakan untuk jalan jalan muter KL, yang kemungkinan terakhir kali bagi saya.

Setelah menunggu 2 hari, akhirnya saya mendapatkan visa yang ditunggu-ditunggu. Langsung keesokan harinya saya pulang ke Indonesia, for good. Karena hectic dan stressnya acara mengurus visa, saya lupa untuk sedikit merasakan sedih atau melankolis ketika meninggalkan Malaysia yang sudah 3 tahun saya tinggali. Meminjam bahasanya Arnold di film Terminator, saya bergumam: I’ll be back!

Dengan menggeret sebuah koper dan menggendol tas ransel, saya sampai di bandara Cengkareng, dilanjutkan naik bis Damri ke Bogor. Sepanjang perjalanan di bis damri, hujan turun rintik-rintik, diiringi sebuah lagu yang mendayu-dayu, lagu artis tua yang sangat popular di zaman bapak saya, yang diputar oleh pak supir bis. Tidak biasanya perasaan saya hanyut mengiringi sya’ir sebuah lagu, hanya saja kali ini sepertinya saya berada di bis yang tepat dalam waktu yang tepat. Pak supir memutar lagu Aku pulaaaang…dari rantauuu…bertahun-taaaahuuuun di negri oraaaang…oh Malaysiaaaaa….. Akhirnya sayapun sedih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s