Cuti-Cuti Malaysia (5), 4 malam di 5 pulau

Selama tinggal di Malaysia, sahabat saya selain temen-temen Indo yg kece adalah airaisa. Hampir setiap hari saya tongkrongin websitenya hanya untuk mengecek promo tiket. Mahasiswa memang selalu mencari pilihan hemat untuk mudik. Suatu hari tiba-tiba saya mendapat email tiket promo airasia 0 RM, kita hanya perlu bayar airport tax. Tanpa pikir panjang saya langsung booking ticket ke Singapore. Setelah diskusi panjang dengan travel buddy saya (baca: Yunitata), akhirnya kami mebuat rute trip yang sedikit jauh dari perkiraan. Perjalananan non-stop melintasi 3 negara dalam waktu 4 hari 3 malam. Sehari di Singapore, bermalam di Batam, lanjut ke Medan dan menginap 2 malam di sana, hari berikutnya lanjut ke Penang dan Ipoh.

Perjalananan dimulai dari stasiun bis di depan Bandar U menuju KL central. Karena berangkat sore hari, kami harus mengejar bis dari KL central menuju bandara. Sesampainya di bandara, kami langsung gelar tiker dan jualan..hehee.. maksudnya, kami pergi makan malam di sebuah kedai nasi padang dan kemudian sholat d mushola, dan numpang tidur. Banyak juga penumpang lain yang gelar tiker di mushola untuk menunggu penerbangan keesokan harinya. Sayang sekali walaupun mendapat posisi yang nyaman, saya tidak bisa tidur. Kantong kere mental menak, ga bisa tidur sembarangan..hahaha.. Keesokan harinya setelah subuh kami langsung siap-siap karena penerbangan kami jam 6 pagi. Sebelumnya saya menyempatkan diri minum kopi hitam pahit demi supaya tetap bisa bangun.

0000-00-00-00-00-00-nikon-coolpix-s51-coolpix-s51v1-0-3264x24481261782752

Basah kuyup di Universal studio

Sampai di Singapore sekitar 1 jam kemudian, dan kami tidak tau mau ngapain..hahaa… tujuan kami ke Singapore hanya ingin jalan-jalan di universal studio, yang tiketnya sudah kami beli jauh-jauh hari. di Singapore kami juga janjian untuk bertemu dengan seorang adik kelas saya waktu di Jogja, untuk jalan bareng dan nginep di Batam malam harinya. Akhirnya kamipun bertemu di suatu tempat di sekitar orchad road, makan siang di restaurant Indonesia, dilanjutkan jalan-jalan ke area Bugis street dan merlion. Setelah foto-foto, kami kemudian melanjutkan universal studio, tujuan utama ke perjalananan ke Singapore ini. Sayang sekali, sepanjang hari awan mendung menyelimuti langit Singapore dan hujanpun turun dengan derasnya ketika kami di Universal studio. Tidak banyak wahana yang bisa saya nikmati, karena umur yang semakin tua, walaupun wajah masih terlihat muda belia..hahaa…bahkan untuk naik rollercoaster pun saya harus membiarkan teman saya menikmatinya sendiri. Setelah cukup puas berkeliling di Universal, kami kemudian pergi ke pelabuhan tempat ferry menuju Batam berada. Disana kami sudah janjian bertemu kembali dengan adik kelas saya yang sempat berpisah karena dia tidak ikut ke universal. Setelah satu jam perjalananan ferry (oh yes, ferry kali ini jauh lebih bagus dan lebih mahal dibanding ferry ke Pangkor atau Penang) kami sampai di Batam. Setelah clearance di imigrasi, kami lanjut ke mall yang tepat berada di atas imigrasi, untuk makan malam. Dua anak Indonesia sangat bahagia menemukan batagor dan bakso rasa asli setelah sekian lama! Selesai makan kami ke kosan adik kelas saya untuk menumpang. Besok paginya kami sarapan lontong sayur, yang menurut saya, lontong sayur terenak yang pernah saya makan sampai saat ini! Selesai sarapan, kami melanjutkan perjalananan dengan taksi menuju bandara Hang Nadim Batam. Amazed, karena ternyata pemeriksaan tidak begitu ketat. Entahlah, mungkin karena ini penerbangan domestic, yang bagi saya juga merupakan penerbangan domestic pertama kali. Tujuan berikutnya adalah Medan, sekitar 1 jam flight dari Batam. Salah satu penerbangan yang meninggalkan kesan begitu dalam bagi saya. Pesawat yang kami naiki waktu itu sepertinya sudah tidak beroperasi lagi sekarang, pesawat yang pramugarinya memakai seragam warna orange, kemeja semi blazer lengan pendek, dan celana panjang yang (sayangnya) super ketat. Bukan warna orange yang membuat saya terkesan, tapi para penumpang yang heboh yang baru pertama kali saya lihat. Penumpang pesawat yang membawa air minum botol 1 L sampai ke kabin dan tidak mau dijauhkan dari air minumnya, ibu-ibu yang menggendong anak kecil dan tidak mau dipisahkan dari anaknya sepanjang penerbangan (di crib atau kursi terpisah atau memakai seat belt), dan bapak-bapak yang membawa barang berkardus-kardus, plus hebohnya suara orang mengobrol dan berteriak.. Pesawat serasa bis kota..mungkin karena ongkosnyapun ga terlalu beda jauh. Kami hanya membayar sekitar 300ribu rupiah untuk penerbangan Batam-Medan, benar-benar murah dan sangat meriah!

Sampai di bandara Polonia (waktu itu belum ganti ke Kualanamu) kami didatangi para supir taksi dan abang-abang yang menawarkan kartu perdana dengan harga yang sangat mencekik, ish. Kamipun membeli satu kartu dan mencegat taksi menuju hotel. Setelah 2 malam sebelumnya tidur di bandara dan menumpang, akhirnya bisa lega tidur di hotel. Salah satu hotel favorit di medan, karena selain murah, letaknya strategis, sarapannyapun sangat enak. Aston hotel yang terletak tepat di depan merdeka walk, tempat gaulnya anak Medan J

0000-00-00-00-00-00-nikon-coolpix-s51-coolpix-s51v1-0-3264x24481261809312

Merdeka walk, tempat jajannya anak gaul Medan

Hari pertama di Medan kami habiskan dengan jalan-jalan, literally jalan kaki mengelilingi Medan karena kami tidak berani naik angkot. Dimulai dari Aston hotel, jalan lewat kantro pos, melipir melewati pasar buku loak dan kami dipanggil-panggil: “buku kak! buku kak!”. Sedikit terkejut karena bingung mereka sedang menawarkan buku atau membentak..hehee.. ternyata mereka baik, setelah sedikit ngobrol-ngobrol, kamipun mengambil fotonya..walaupun tidak membeli buku. Perjalananan dilanjutkan melewati pasar-pasar tradisional dan kami akhirnya berhenti di salah satu mall, Medan Mall. Disana selain makan, kami hanya melihat-lihat baju murah di Matahari. Setelah tidak menemukan banyak hal di Medan Mall, kami akhirnya memberanikan diri naik kendaraan di Medan, kendaraan khas yang hanya ada di Sumatra utara, bentor alias becak motor. Tujuan kali ini ke Sun plaza mall dan karena it’s not our type of mall, kami memilih pergi ke..Ucok durian! berburu durian sampai ke Medan, berdua kami menikmati duren sepuasnya dan kembali ke hotel untuk tidur nyenyak…

Hari kedua di Medan, kami menyewa mobil untuk pergi ke luar kota, tujuan awalnya ke danau toba, selebihnya kami serahkan ke pak supir dan pak guidenya. Setelah berdiskusi, akhirnya diputuskan kami tidak akan ke danau toba di parapat karena cukup jauh untuk ditempuh dalam waktu sehari pp. Jadinya kami pergi ke taman simalem resort, ke air terjun sipiso piso, dan ke Brastagi. Dan kami tidak pernah menyesalinya karena taman simalem luar biasa cantiknya. Perjalananan dari Medan ke taman simalem memang cukup menantang, jalan yang berbelok-belok dengan lubang besar dimana-mana. Bonus lain, kendaraan-kendaraan umum jenis elf dengan kecepatan sakti mandraguna yang ketika belok bukannya memelan, malah tancap gas sekencang-kencangnya.

Walaupun sepanjang jalan jantung berdegup kencang, saya bahagia tidak terlukiskan. Sepanjang jalan yang berkelok-kelok itu, bukit barisan berjajar disekitarnya. Waktu kecil saya suka sekali membaca novel-novel sastrawan zaman dulu Indonesia mulai dari angkatan balai pustaka, 45, dan seterusnya. Saya menikmati membaca novel-novel St Takdir Alisjahbana, Marah rusli, Hamka, dan penulis-penulis lain. Kebanyakan novel angkatan itu bersettingkan kota Padang, Bukittinggi, daerah Sumatra lain dan sekitarnya, yang tentu saja bukit barisan termasuk didalamnya. Yup, seperti kembali ke masa kecil. Bahagia bisa melihat tempat yang selama ini hanya ada dalam khayalan lewat deskripsi novel-novel itu. Sampai di Simalem pun saya seperti tersihir dengan keindahan danau toba dilihat dari atas, danau toba yang dikelilingi bukit-bukit hijau berlipat-lipat, indah, cantik, dan nampak gagah. Kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam di taman simalem, yang sayangnya kontruksi saat itu belum selesai. Bahkan mushola dan toiletpun masih seadanya.

Setelah Simalem, kami melanjutkan perjalananan ke air terjun sipiso-piso. Air terjun sangat cantik yang seolah-olah keluar dari dua buah bukit batu karang, dan mengalir menuju toba. Kami hanya berfoto-foto di sekitar karena terlalu malas untuk turun ke air terjun yang jalannya berupa ratusan anak tangga curam. Sayang sekali, daerah sekitar air terjun ini kurang terawat. Selain jalan menuju air terjun yang sedikit menyeramkan, banyak sampah bertebaran dimana.mana, um, masalah klasik di Indonesia tercinta.

0000-00-00-00-00-00-nikon-coolpix-s51-coolpix-s51v1-0-2448x3264

Air terjun sipiso-piso

Tidak lama setelah Sipiso-piso, kami melanjutkan perjalanan ke Brastagi. Sama seperti tukang buku, kamipun ditawari untuk beli jeruk dengan nada yang menghibur. To be honest, bukit yang kami kunjungi di Brastagi tidak terlalu membuat saya terpukau, saya justru menikmati jalan-jalan yang kami lalui ketika menuju kesana. Perkampungan yang dikelilingi kebun-kebun cantik dimana-mana, dan anak-anak sekolah yang baru pulang dan naik angkot dengan cara paling ekstrim yang pernah saya lihat. Naik angkot di atas bagian atapnya, karena duduk manis di dalam angkot sudah terlalu mainstream!

Dalam perjalanan seharian itu kami sempat mampir makan di rumah makan Padang, karena kebanyakan rumah makan di sekitar adalah rumah makan batak yang menyajikan menu utama babi guling! Kamipun makan dengan pak supir, pak guide, dan supir-supir truk yang sedang melintas di daerah itu.

Menjelang malam kami kembali ke Medan, makan nasi goreng, dan mobil kami menabrak abang-abang yang bersepeda seenaknya. Memang benar-benar tantangan luar biasa di Medan ini. Sebelum kembali ke hotel kami mampir ke tempat oleh-oleh fenomenal yang ada di Medan, bika ambon Zulaikha dan Bolu Meranti. Antrian panjang dan ga boleh foto, entah kenapa…

Kamipun kembali ke hotel, capek tapi bahagia, dan tidur nyenyak. Besoknya, tepat hari raya Idul Adha tapi kami tidak bisa ikut sholat Eid karena harus mengejar penerbangan ke Penang. Hanya perlu 45 menit flight dari Medan menuju Penang. Rasanya pesawat baru take off, kemudian tiba-tiba muncul pengumuman pesawat akan segera landing.

Di Penang kami tidak pergi kemana-mana, hanya jalan di seputaran Queen’s bay untuk kemudian numpang ngadem di bioskop sambil nonton Harry Potter terbaru. Selesai Harry Potter kami sholat, makan, dan mencari bis ke Ipoh untuk pulang kembali ke kampus tercinta.

Perjalanan yang melelahkan tapi sangat berarti, terutama bagi saya. At that time, little did I know, bahwa suami saya kelak adalah orang campuran Batak-Minang yang tinggal di Medan. Memang waktu kenal masih tinggal di Jakarta, tetapi sebulan sebelum menikah dia sudah pindah ke Medan. 50 ribu tahun yang lalu sudah dituliskan bahwa saya akan melaksanakan salah satu resepsi pernikahan (kami menikah 2 kali resepsi, di Sukabumi dan Medan) di Medan dan pulang pergi ke Medan setidaknya setahun sekali untuk mengunjungi mertua. Jauh sebelum itu, saya sudah jatuh cinta dengan Sumatra karena novel-novel masa kecil, dan mengunjungi dan berkeliling Medan tanpa rencana. Rahasia Allah memang sangat indah, tidak ada yang tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s