Cerita-cerita Mekah dan Madinah (3), umroh special bersama mama

Mungkin sudah takdir, bahwa saya harus hidup jauh dari rumah, tetapi hati selalu tertambat disana, jadilah hobby saya mudik. 4 bulan setelah memulai hidup baru di thuwal, sayapun kembali mudik. Karena anak raja,mudik gratis dong.. ish sombong sekali anak satu ini. yah Alhamdulillah, mulai episode kali ini saya tidak perlu terlalu memikirkan darimana dana untuk ongkos mudik, hanya perlu mencari waktu yang tepat saja. waktu yang tepat adalah ketika semua pekerjaan saya sudah selesai dan pak bos senang dengan hasilnya dan musim liburan telah tiba. Hari-hari yang dinantipun tiba, saya pulang ke Indonesia kali ini bukan dengan Garuda tapi Saudi airlines. Ah pesawat ini keren sekali. Sebelum take off di layar muncul do’a dalam perjalanan, lengkap dengan artinya. yang paling penting, ada mushola di bagian belakang pesawat sehingga kita bisa sholat berdiri. Arah kiblatpun sering muncul di layar. Selain itu, tentu saja harga tiketnya yang murah, bahkan sering tiba-tiba diskon, sangat nyaman di kantong.

Banyak agenda mudik kali ini. Salah satunya adalah kondangan ke teman yang menikah di Jogja, jalan-jalan di Bandung, dan yang paling penting, menjemput mama untuk ikut ke thuwal. Akan tetapi, menjemput tidak semudah itu karena harus membuat visa terlebih dahulu. Karena kebanyakn main kesana-kemari, saya membuat visa untuk mama mepet di hari-hari terakhir di Indonesia. Dokumen-dokumen yang diperlukan sebenernya tidak banyak karena sudah ada undangan dari mofa, dan karena hanya visa kunjungan jadi tidak memerlukan medical check up. Sayapun pergi sendiri mendatangi kedubes Saudi yang di Cawang (waktu itu belum pindah). Ternyata, sedikit berbeda dengan Malaysia, saya disuruh mendaftar dulu di enjaz yang kata petugas di kedubes letaknya di luar kedubes. Sayapun bingung mencari-cari karena disekitaran kedubes di pinggir jalannya hanya ada ruko-ruko kecil berjejeran, kebanyakan tukang fotokopi atau jual makanan. Setelah tanya2 ke mang ojek akhirnya diberi tau disanalah enjaz, nyempil diantara ruko-ruko kecil itu. Sayapun daftar dan kembali ke kedubes untuk submit tapi sudah terlambat karena sudah siang. Saya harus menunggu besok dan daripada pulang akhirnya saya menghubungi teman yang tinggal di Depok, di sekitar kampus UI untuk menginap, tepatnya menumpang. Dan disanalah saya menemukan kue mangkok terenak yang pernah saya makan, kue mangkok di stasiun UI! Sayang sekali penjualnya sudah tidak ada sekarang.

Kembali ke cerita visa, saya kembali ke kedubes dan submit lagi. 2 hari kemudian saya disuruh kembali, dan hari ketiganya saya harus berangkat kembali ke thuwal.hehee.. Jadilah di hari terkahir di Indonesia, saya siang-siang pergi ke kedubes Saudi untuk mengambil visa dan meminta mama untuk pergi ke rumah saudara yang tinggal di dekat bandara. Rencananya, jika mama bisa mendapat visa, malamnya kami langsung beli tiket dan berangkat keesokan harinya. Alhamdulillah visanya dapat dan sesuai rencana sayapun membeli tiket untuk mama, meminjam kartu kredit seorang teman lama. Untunglah mama saya sudah terbiasa dengan yang dadakan seperti ini, jadi kami sama-sama tenang.

Besok harinya pagi-pagi kami berangkat ke bandara. Sayang sekali waktu mau check in mama saya ditolak karena tidak punya tiket return. Sayapun kembali mondar mandir mencari kantor Saudi airlines untuk membeli tiket tapi sayang uang rupiah saya tidak cukup. Menelpon teman untuk pinjam kartu kredit sudah tidak ada, akhirnya mengambil uang pake atm Saudi yang alhamdulillah bisa untuk membeli tiket pulang.

Berangkatlah kami berdua menuju thuwal, kaust kampus tercinta. Tak terlukiskan bahagianya saya waktu itu. Biasanya wara wiri kesana kemari sendiri, kali ini ditemani mama. Perempuan keren yang paling saya cintai di dunia ini.

Setelah beberapa hari di kaust, kami akhirnya menyewa taksi, untuk umroh bersama! Sepanjang jalan mama sangat takjub melihat pemandangan di sisi kanan-kiri jalan. Hanya batu, bukit-bukit tandus berbatu besar dan kerikil, dan hamparan pasir berwarna kecoklatan. Pikirannya melayang ke zaman Rosullah saw ketika beliau hijrah dari Mekah ke Madinah. sayapun merasakan hal yang sama, tapi melihat ekspresinya, saya tau perasaan mama jauh lebih dalam.

Umroh pertama mama sebenernya hanya bisa sendiri karena saya berhalangan. Akhirnya saya hanya bisa menunjukan tatacara pelaksanaan umroh dan tempat-tempatnya. Duh mama saya ini lincah sekali. Awalnya saya sudah mewanti-wanti untuk tidak memaksakan diri menyentuh hajar aswad. Betapa terkejutnya saya, setelah putaran terakhir saya menunggu mama tidak kembali, tiba-tiba muncul dari kerumunan seorang ibu berwajah sumringah karena telah berhasil menyusup kerumunan depan ka’bah dan menyentuh hajar aswad. Selesai Tawaf, mama kemudian melaksanakan sa’I, saya hanya menunggu di luar masjid. Karena sangat semangat, bukannya berjalan kaki, mama ikutan lari-lari kecil juga. Setelah 7x berlari-lari antara safa dan marwa tanpa jeda istirahat, akhirnya mama tahallul, dan sayalah yang memotong sedikit rambutnya. Bagaimana rasanya? Tidak bisa digambarakan dengan kata-kata.

Selesai umroh kami kemudian mencari makanan di sekitaran Alharam, dan lanjut pulang. Untuk umroh kali ini saya memutuskan untuk tidak menginap karena saya mati gaya, tidak bisa melakukan apapun, selain nongkrong di luar masjid atau di mall depannya. Yang terakhir itu berbahaya.

Selama tinggal di kampus, mama nyaris tidak pernah kemana-mana. Selain anaknya sangat sibuk, mama tidak berani keluar sendiri. Katanya takut naik lift dan takut kesasar kalau pulang karena semua rumahnya sama. Akhirnya kami hanya bisa pergi keluar setiap weekend, itupun setelah saya selesai meeting mingguan (yup, meeting saya setiap weekend). Waktu itu weekend di Saudi masih Kamis-Jumat. Kami Alhamdulillah shaum di hari kamis, dan setelah selesai meeting tiba-tiba saya mencoba mengecek bookingan taksi di kampus, siapa tau bisa pergi ke Mekah. Alhamdulillah, sudah rezeki, saya bisa dapat taksi dan kamipun pergi ke Mekah di sore hari dengan membawa bekal, nasi dan lauknya, serta bala-bala! Tiba di Mekah menjelang magrib, kamipun ikut kerumunan orang-orang yang menunggu waktu berbuka di pelataran masjid. Banyak orang membagi kurma atau minuman. Memang sudah biasa orang-orang dsini shaum Sunnah senin-kamis dan membagikan makanan menjelang berbuka.

Berbukalah kami dengan kurma dan bala-bala, lanjut sholat magrib, dan keluar lagi untuk makan. Selesai makan kami kemudian umroh, kali ini berdua. Dan mama masih dengan kelincahan yang sama. Saya, walaupun masih muda, masih harus sering minta istirahat ketika sa’I antara safa marwa. Umroh kali ini lumayan lama karena masjid sangat penuh, maklumlah weekend. Selesai umroh sekitar jam 11 malam, kamipun mencari tempat untuk istirahat, masih di dalam masjid. Akhirnya, kami memutuskan untuk menginap! Lagi-lagi, rasa bahagia yang tidak terlukiskan. Menginap bersama mama, berdua saja, di masjid Alharam.. antara bahagia, sedih, terharu..tiba-tiba mama bergumam, wah coba bapak masih ada, mungkin kita bertiga. Ah tapi kami sadar, berandai-andai itu biasanya datang dari syaitan…

Karena masjid cukup ramai, kami tidak bisa tidur terlalu nyenyak. Dini hari sekitar pukul 2, kami keluar masjid, untuk ke toilet dan mencari makanan. Barulah saya tersadar, entah sudah berapa tahun saya meninggalkan rumah, dan tidak pernah menghabiskan waktu banyak dengan mama. dan lagi-lagi, Allah memberikan saya kesempatan untuk bersama mama di tempat dan waktu yang luar biasa.

0d49e53f-4b62-4af2-8882-5c06b43126ca

Kiri-Kanan: Jabal tsur, Mina, Kuburan Khadijah, Makan malam di rumah teman

Pagi hari setelah dhuha, kami kemudian dijemput oleh seorang teman (rahimahullah) untuk keliling mekah. Beliau dulunya seorang prof di kampus saya di Malaysia dan pindah mengajar di Mekah. Sebetulnya saya tidak pernah bertemu langsung ketika di Malaysia, hanya sedikit memberanikan diri untuk menghubungi dan alhamdulillah beliau sangat baik, menjemput kami dan mengajak keliling mekah dan sekitarnya. Pengalaman pertama bagi saya karena selama ini yang saya tau Mekah adalah Alharam, paling banter ke masjid Aisyah di Tan’im. Kali ini kami berkeliling mulai dari gua tsur, gua hira, jabal rahmah, mina, bahkan sampai mendekati mudzdalifah. Kamipun masuk ke gang-gang di sekitar mekah, melihat rumah-rumah yang dibangun di atas bukit-bukit batu. Rumah berbentuk kotak bewarna kecoklatan berjejer rapi dari atas bukit sampai ke bawah.

Selesai berkeliling mekah, beliau mengajak kami ke apartemennya untuk istirahat. Dan saya benar-benar istirahat alias numpang tidur di kamar anaknya. Sedangkan mama, lanjut mengobrol dengan keluarganya.

Menjelang sore hari kami diantarkan kembali ke Alharam. Selesai sholat ashar di harom, kami kemudian pulang. Kebetulan ada dua orang teman turki (teman haji) saya yang sedang di alharam bersama orang tuanya. Merekapun akan pulang ke kampus dengan mobil jemputan teman yang lain, karena taksi fully booked. Akhirnya kamipun ikut menumpang. Karena parkir mobil lumayan jauh, kami cukup kerepotan berjalan sambil membawa botol besar berisi zamzam. Untunglah teman saya itu mau membawakan botol besar itu dan mama sangat terharu dibuatnya.

Sampai ke kampus, kami malah mendapat undangan makan malam di rumah teman turki itu. Selesai mandi dan magrib, kami kembali ke rumah teman itu. Makan masakan turki yang mama tidak mampu untuk menghabiskannya, karena rasanya sangat ajaib bagi kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s