Cuti-Cuti Malaysia (4), perjalanan ke pulau Pangkor dan perjuangan mencari duren

Suatu hari, weekend, saya lupa Sabtu atau minggu, saya dan roommate saya yang kece, dilanda kebosanan akut. Tiba-tiba kami memutuskan untuk jalan-jalan ke sebuah pulau yang lokasinya tidak begitu jauh dari kampus, bisa pulang pergi dalam waktu sehari. Nama pulau itu pertama kali saya dengar dari tukang ikan asin di pasar rabu yang selalu berteriak: ikan bilis, pulau pangkor…murah lagi sedap…

0000-00-00-00-00-00-nikon-3264x24481260877624

Ferry Lumut-Pulau pangkor

Kami berangkat di pagi hari, jalan dari asrama ke gerbang depan kemudian menunggu bis umum tujuan lumut yang lewat depan kampus. Kampus saya ini selain dikelilingi hutan, begitu keluar gerbang depan sudah langsung highway, jalanan besar. Menunggu bis umum local di kampung seperti ini memang sebuah tantangan luar biasa. Selain waktu menunggu yang tidak menentu, bisa sampai 1 jam atau lebih, karena tidak ada jadwal pasti, banyak truk-truk besar atau kendaran lain yang lewat, yang bisa dipastikan akan menoleh atau lebih ekstrim memanggil2. Ntah hanya kepada perempuan saja atau sama rata. Yang saya tau, sebagian besar orang-orang disini mempunyai kendaraan pribadi karena harga mobil tidak terlalu mahal. Setelah kurang lebih satu jam menunggu, bis yang kami nantikan tiba dan membawa kami ke Lumut, juga dalam waktu satu jam. Untuk ke Pulau Pangkor kami perlu menyebrang dengan ferry dengan lama perjalan sekitar 40 menit.

Sesampainya di Pulau Pangkor, kami tidak terlalu tau mau pergi kemana. Tujuan kami hanya ke Pulau Pangkor. Akhirnya kami naik taksi, dan bapak taksi yang baik mengantarkan kami ke sebuah pantai yang cantik. Jadilah kami hanya bermain-main di pantai. Walaupun bisa menyewa banana boat atau sekedar snorkeling, kami tidak melakukannya karena tidak membawa pakaian untuk ganti. Jadi, kami literally hanya berjalan menyusuri pantai, memerhatikan anak-anak yang berenang dan bergelantungan di pohon di pinggir pantai. Setelah cukup puas berjalan di pantai, kami kemudian mencari rumah makan dan mushola. Rumah makannya sederhana tapi bersih dan makanannya cukup enak, sayang sekali musholanya sedikit creepy. Sebelum sore kami sudah kembali ke pelabuhan untuk menyebrang kembali ke Lumut. Supaya ada kesan kami baru kembali dari pulau Pangkor, kami mampir di toko ikan asin, untuk membeli ikan bilis pulau pangkor yang popular itu.

0000-00-00-00-00-00-nikon-3264x24481260678584

Siap-siap melompat dari pohon

Selain pulau pangkor, tujuan perjalanan kami hari itu adalah mencari duren. Sayang sekali tidak ada penjual duren yang kami temukan di pangkor ataupun di lumut. Akhirnya kami bertanya ke sekeliling dan kondektur bis lumut-ipoh memberi tahu kalau banyak penjual duren di sepanjang jalan. Kamipun meminta pak kondektur untuk menurunkan kami dimanapun di sepanjang jalan itu, yang ada penjual durennya. Pak kondektur memang keren, beliau begitu serius memastikan tiap lokasi yang ada penjual durennya sepanjang jalan yang kami lewati. Karena sudah terlalu sore, banyak penjual yang sudah tutup, um pulang maksudnya karena duren-duren itu hanya dijual dipinggir jalan tanpa ada kios atau warung, kita bisa makan ditempat atau bawa pulang. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pak kondektru menemukan penjual duren yang masih menggelar daganganya. Kamipun langsung turun dan menyerbu duren. Demikianlah, kami jadi pelanggan terakhir penjual duren dan harus menunggu lama dalam ketidakpastian akan datangnya bis berikutkutnya, yang akan mengantar kami kembali ke kampus.

Picts courtesy of Yunitata of Sheffield, on of my best travel buddy and roommate

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s