Cuti-Cuti Malaysia (1), wisata medis bolak-balik UTP-Kualalumpur untuk cabut gigi

Satu dua bulan pertama di kampus baru terasa sangat menyenangkan, banyak kegiatan, selalu sibuk dari pagi sampai sore bahkan saat weekend. Kegiatan sehari-hari diisi dengan (tentu saja) ngelab, menjadi asisten praktikum, dan mengajar di kelas. Weekend kadang diisi dengan acara pergi ke Ipoh, kota terdekat yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan. Selebihnya, tentu saja tidur. Mengingat kami tinggal di dalam hutan belantara, jalan-jalan keluar memang perlu perencanaan. Karena jarak dari asrama (kami menyebutnya housing, semacam flat yang terbagi dalam beberapa blok) ke pintu gerbang saja sudah sangat jauh, dan sangat melelahkan jika ditempuh dengan jalan kaki di tengah teriknya matahari Tronoh yang luar biasa panasnya. Hari yang ditunggu-tunggu selain weekend adalah hari rabu sore. Pihak kampus menyediakan dua armada bis untuk mengunjungi pasar malam di desa sebelah, bandar U. Pasar malam tradisional yang isinya berbagai macam makanan dan minuman, termasuk favorit saya: lekor, sate padang, dan duren! Selain jajan-jajan, di pasar malam ini juga kami biasanya belanja sayuran atau bahan makanan lainnya untuk persediaan selama satu minggu, karena di kampus hanya ada makanan yang sudah di masak. Sayangnya, terkadang kapasitas bis tidak sesuai dengan jumlah mahasiswa yang ingin pergi, jadilah kami harus standby jauh sebelum bis berangkat. Siapa cepat dia dapat, anda telat, berdiri di tempat..weheheee

Selain ke pasar rabu, ada saatnya weekend kami pergi ke Ipoh. Karena jaraknya lumayan jauh dan kendaraan umum jarang sekali, kami lebih sering menyewa mobil patungan. Sewa mobil seharian, literally pergi pagi pulang malam, jalan-jalan dengan tujuan utama rumah makan padang atau ayam penyet, dilanjutkan belanja di Jasco atau Tesco, diakhiri dengan acara nonton di bioskop. Begitulah kalau anak kampung pergi ke kota J

Beberapa bulan setelah menetap di kampus baru, penyakit lama saya, penyakit keren yang susah ditemukan obatnya kembali kambuh. Sakit gigi! Duhai, saya (Alhamdulillah) jarang sekali sakit hati, tapi sakit gigi menjadi penyakit langganan sejak kecil. Sakitnya luar biasa. Karena tidak ada dokter gigi di klinik kampus, saya hanya punya pilihan untuk pergi ke Ipoh jika ingin mengunjungi dokter gigi. Akan tetapi, pergi ke Ipoh bukan pilihan yang viable, harus sewa mobil dan mencari teman yang bisa menyetir dan mau mengantar tentunya. Mahal dan terlalu banyak merepotkan orang. Akhirnya saya memilih untuk pergi ke Kualalumpur yang jaraknya beberapa kali lebih jauh dari Ipoh, akan tetapi lebih mudah ditempuh dengan kendaraan umum. Saya bisa naik bis ke KL dari halte terdekat di bandar U. Kebetulan juga di KL ada paman saya, saudara sepupu mama yang tinggal bersama keluarganya di daerah Gombak.

img_1934

Pasar seni, tempat membeli oleh-oleh sembarang kaler

Saya lupa berapa kali tepatnya mondar-mandir ke KL, hanya saja selama tinggal di Malaysia saya sudah 3x cabut gigi dan beberapa kali tambal, di klinik yang berbeda-beda karena saya biasanya datang pas weekend dan jarang sekali klinik yang buka di hari libur. Selain klinik gigi di Gombak, yang saya ingat tentunya klinik gigi di daerah kampung Baru, dekat dengan masjid Jamik kampung baru. Dan masjid ini, selain luas, bersih, dan terawatt, dikelilingi dengan penjual-penjual makanan Indonesia yang aduhai. Ada ayam bakar wong Solo tepat didepannya, ada rumah makan padang Garuda yang berjarak hanya sekitar 100 m di sebrang jalan, dan tukang gorengan dan jajanan kecil berjejer di sekitarnya, feels like home. Kampung baru pun mudah sekali untuk dijangkau, hanya satu atau dua station naik LRT dari KLCC, atau naik taksipun tidak seberapa.

Masih disekitaran KLCC, kadang sayapun mlipir sebentar ke area masjid jamek di dekat terminal bis puduraya. Terminal tempat bis tujuan kampus parkir, dan terminal dimana saya kehilangan HP yang pertama di Malaysia, HP jatuh waktu turun dari bis, dan tidak pernah kembali… Terminal ini letaknya sangat strategis, dekat dengan beberapa tourist spot diantaranya petaling street, pasar seni, masjid jamek, dan little India (saya lupa exactly namanya apa). Tempat favorit saya sebenarnya pasar seni dan little India. Pasar seni pusatnya oleh-oleh di KL mulai dari barang printilan ga penting sampai perhiasan dan lukisan mahal semua ada disini. Saya jarang beli tentunya, ke pasar seni biasanya hanya mampir ke es teler 77 yang buka cabang tepat di sampingnya. Melipir ke samping kiri pasar seni, di jalan-jalan sempit yang selalu penuh dengan kendaraan, tempat favorit lainnya berada. Apalagi kalau bukan jejeran toko kain. Tidak harus selalu beli, cuci mata saja sudah menyenangkan. Jalan sekitar beberapa ratus meter lagi dari pasar seni menuju stasiun masjid Jamik, tepat di sebrang masjid, di bawah rel kereta, terdapat gang kecil panjang penuh sesak dengan penjual barang sembarang kaler. Disini saya biasanya mencari bros-bros cantik murah meriah seharga 3 ringgit saja -bros ini sangat awet bahkan masih saya pakai sampe sekarang setelah 5 tahun- sambil jajan-jajan gorengan. I should tell you, pisang goreng dan lekor disini rasanya sedap gileeeer…. Jalan sampai ujung gang, lagi-lagi toko kain dan kompleks kedai makan… saya bisa bahagia sendirian jalan berjam-jam disana. Sedangkan petaling street, saya tidak terlalu suka pergi sana. Selalu penuh sesak dan barang-barang yang dijualpun bukan yang saya suka.

2008-10-03-01-16-06%ef%80%a3digimax-s1030-%ef%80%a2-kenox-s1030%ef%80%a4-samsung-techwin-%ef%80%a3digimax-s1030-%ef%80%a2-kenox-s1030%ef%80%a4-microsoft-windows-photo-gallery-6-0-6000-16386-768x102

Petaling street di tahun 2008

Cabut gigi di Gombak lain lagi ceritanya. Karena kliniknya dekat dengan rumah paman saya, bisanya saya sekalian menginap.Gombak lumayan jauh dari KLCC, saya tidak ingat berapa station yang harus dilewati, yang pasti bisa sampai 30 menit di dalam LRT. Jangan kepikiran untuk naik taksi karena harganya lumayan menguras kantong. Rumah paman saya sekitar 10 menit drive dari station sehingga seringnya saya dijemput. Pernah suatu hari saya menginap dan jalan ke kampung sekitar di pagi hari, sendiri. Isinya, hampir 90% penduduk kampung adalah orang Indonesia. Itulah mengapa saya tidak pernah merasa tinggal di luar negri ketika berada di Malaysia. Hanya makanan yang sangat kuat rasa karinya dengan aroma bunga lawang yang menyengat, menyadarkan saya kalau saya tidak tinggal di Sukabumi lagi. Karena di Sukabumi adanya cue mang juber dan goreng sepiii…hahahaa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s