Menjadi peneliti honorer, perjalanan Sukabumi-Bogor-Serpong

Setelah satu semester bekerja sebagai guru SMA, akhirnya saya mendapat tawaran untuk kerja di BPPT, melanjutkan penelitian saya waktu di UGM, penelitian fenomenal tentang fuel cell. Tempat kerja saya yang baru bertempat di PUSPIPTEK Serpong, lumayan jauh dari Sukabumi sehingga saya haru tinggal di kosan. Berbekal alamat dan nomor telepon saudaranya tetangga yang tinggal di perumahan BATAN, saya berangkat mencari ke puspiptek untuk mendiskusikan pekerjaan dan mencari kosan.

Seperti yang sudah-sudah, perjalanan dari Sukabumi ke arah Bogor selalu menantang. Untuk sampai Serpong, saya harus nyambung lagi dengan bis 3/4, yang selain sudah penyok dimana-dimana, juga selalu penuh. Kadang saya beruntung mendapat tempat duduk walaupun seringnya berdiri. Akan tetapi, saya kadang bersyukur kalau bisnya sudah penuh di terminal Baranangsiang Bogor, artinya saya tidak perlu nunggu bis ngetem di beberapa spot lain di Bogor. Oia, nama bisnya kalau tidak salah bis Pusaka. Biasanya bis ngetem bukan di dalam terminal, tetapi agak di luar, depan rumah makan padang yang saya lupa namanya. Anyway, bis ini kadang ajaib juga. Walaupun penuh, sering sekali mereka hanya jalan sampai Parung, tidak sampai tujuan utamanya ke Ciputat. Walaupun jelas-jelas di bis tertulis Bogor-Ciputat. Ah, tapi itulah, kita hanya bisa nurut dan sedikit ngedumel. Dari Parung, saya harus nyambung lagi bis lain, dengan merk yang sama, yang sudah menunggu ngetem disana. Kerjasama yang luar biasa diantara sesama pengemudi..hahahaa

Jalan dari Parung menuju puspiptek walaupun jalan aspal sepanjang jalannya masih berupa kebun-kebun atau belukar, somehow agak sedikit menakutkan bagi saya. Sedikit heran juga karena puspiptek ternyata dibangun jauh dari kota. Selain Parung, kota terdekat laiinya adalah Muncul. Umh, bukan terlalu kota juga sih, tapi lumayan banyak angkot dan beberapa toko serta rumah makan tempat saya biasa pergi sepulang kerja.

2008-08-07-16-12-27sony-ericsson-k800i-1632x1224

Mojok di 463, lab favorit 🙂

Selama kurang lebih 8 bulan kerja di puspiptek, saya selalu pulang ke Sukabumi setiap Jumat sore dalam keadaan yang sangat tidak menyenangkan. Sudah bisa dipastikan tidak akan mendapat tempat duduk dari puspiptek sampai Bogor, dan masih harus lanjut ke Sukabumi naik colt mini, mobil ajaib dengan supir alumni F1 racer.

Tidak banyak perjalanan yang saya lakukan selama di BPPT. Setiap hari saya masuk kerja, naik ojeg dari pintu depan perum batan ke lab saya di ujung lab PTM. Benar-benar ujung dekat dengan kebun dan penuh semak belukar. Ojeg disini juga sakti-sakti, melaju dengan kecepatan luar biasa. Tanpa helm atau pengaman lainnya, hanya bermodalkan tawakkal. Suatu hari saya pulang lebih awal dari biasanya karena semua pekerjaan sudah selesai. Rombongan dengan 2 orang teman yang lain, kami naik 3 ojeg. 2 orang teman saya sudah melaju di depan, saya di belakang karena mewanti-wanti mang ojeg untuk tidak ngebut. Ah tapi rupanya teriakan saya tidak terlalu didengarkan si emang. Ojeg tetap ngebut melebihi kecepatan suara tapi masih dibawah kecepatan cahaya. Qodarullah, pas dibelokan, emang ojeg bukannya mengurangi kecepatan malah tancap gas. Dari arah berlawanan, seorang mbak2 manis memacu motornya dengan kecepatan hampir sama. Bertemulah kedua motor yang kami tumpangi di belokan depan puspiptek. Ibu-ibu pencari kayu bakar menjerit-jerit, si mbak-mbak terjatuh pingsan, dan saya bengong menemukan diri saya duduk manis diatas motor yang sudah terbalik. Dengan diantar mobil polisi saya diperiksa oleh dokter di klinik dan Alhamdulillah tida mengalami luka berat, hanya sedikit memar-memar. Cukup membuat saya trauma untuk naik ojeg disana dan memilih jalan kaki ke lab dari kosan, atau numpang siapapun yang bisa ditumpangi.

Perjalanan favorit selama saya bekerja di BPPT tentu saja ketika ada rapat atau pekerjaan lain di gedung pusat BPPT di Thamrin. Selain mendapat uang jalan (atau apalah namanya saya lupa), bisa ganti pemandangan dari puspiptek dan muncul memberikan kesenangan tersendiri. Makanan di gedung pusatpun berbagai jenis, bahkan kalau rapat, makanan sudah ditanggung.. ah jiwa mahasiswa penggemar makanan gratis masih melekat. Walaupun ada mobil jemputan BPPT, saya lebih sering naik angkot sampai Ciputat kemudian nyambung bis ke Thamrin atau Sudirman. Lumayan bisa mampir ke beberapa toko kain di sekitara Ciputat. Yes, kain. entah apa sebabnya saya bahagia kalau berada di toko kain, walaupun hanya untuk melihat-lihat.

Pict courtesy of lovelybogor.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s