Balada seorang pencari kerja: perjalanan Sukabumi-Jakarta, Sukabumi-Bandung

Pulang kampung tanpa pekerjaan setelah lulus ternyata merupakan suatu kenyataan yang tidak terlalu manis. Apalagi bagi mereka yang lulus dari jurusan favorit dan kampus favorit, Tekim UGM misalnya. Nevertheless, saya tidak punya pilihan lain. Mencari kerja dari Sukabumi walaupun dengan informasi yang sedikit terbatas harus tetap dilakukan. Jadilah hampir setiap hari saya nongkrong di warnet, mengirimkan email CV dan resume kemana-mana. Cukup banyak saat itu perusahaan yang memanggil untuk tes kerja, rata-rata tesnya dilaksanakan di Jakarta atau Bandung. Jadilah saat itu pekerjaan saya hanya mondar-mandir Sukabumi, Jakarta, Bandung. Bis biru kotak-kotak MGI Sukabumi-Bandung jadi favorit karena lumayan nyaman dan ber AC, sedangkan bis ke Jakarta, manapun jadi asal sampai. Seringnya saya naik bis Sukabumi-Jakarta jurusan UKI untuk kemudian naik kopaja atau ojek ke tempat tujuan.

Tidak ada yang istimewa dari perjalanan-perjalanan saya itu, yang bisa mengingatkan saya ke setiap detail kejadian didalamnya. To be honest, saya lebih suka ke Bandung karena banyak teman-teman yang masih kuliah disana, sehingga saya bisa numpang menginap, dan jalan-jalan. Yang saya ingat dari perjuangan mencari kerja di Bandung adalah kehilangan HP di angkot. Kehilangan HP pertama yang diikuti dengan hilangnya HP-HP berikutnya. Itulah kenapa saya lebih suka HP jadul, karena selain murah, awet, batre tahan lama, tahan banting, hati juga mudah mengikhlaskan ketika ia hilang..

Perjalanan Sukabumi-Jakarta tantangannya lebih besar. Selain jalur Sukabumi-Bogor yang macetnya sudah fenomenal, kebanyakan bis-bis jurusan Jakarta bisa dikatakan kurang layak. Bis-bis tua yang selalu diisi penuh berdesakan, plus bonus ngetem di beberapa tempat termasuk di terminal Cibadak, terminal Parungkuda, daerah Cicurug dekat perempatan Cidahu, dan tentu saja di Ciawi. However, I took the challenge. Setiap ada panggilan kerja di Jakarta, saya harus berangkat sebelum Subuh untuk menghindari macet. Tentu saja bis diisi oleh para pekerja yang hampir 99,9% nya adalah bapak-bapak. Jika berangkat sebelum subuh, sekitar jam 7 pagi saya sudah tiba di Jakarta dan bersiap-siap mencari angkutan lanjutan ke tempat tujuan. Kadang saya harus naik ojeg di pagi buta, pilihan yang kurang menyenangkan karena kadang saya merasa kurang aman. Seperti yang sudah saya bilang, kebanyakan membaca berita kriminal. Untuk menghibur hati dan mengalihkan perhatian para tukang ojeg jika mereka punya pikiran buruk (duh kenapa saya suudzhon), saya suka mengajak mereka mengobrol. Banyak juga cerita yang meluncur. Cerita tentang betapa kerasnya Jakarta dan kerinduan akan keluarga di kampung, seperti cerita-cerita popular pada umumnya.

Setelah berkali-kali tes, sepertinya saya memang tidak berbakat kerja di perusahaan. Saya selalu gugur di tahap pertama, hampir untuk semua perusahaan. Simply karena memang saya tidak suka psikotes yang saya anggap tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang akan saya lakukan. Kata orang psikotest bisa dipelajari, tapi bagi saya psikotes yang dipelajari bukan the true psikotes, tidak ada ubahnya seperti mengerjakan hafalan. Pernah suatu hari saya tes di perusahaan di daerah Tanjung priok. Datang kesana saya satu-satunya orang yang berpakaian kurang rapi, dan berkerudung. Tidak seperti biasanya, tes kali ini bukan psikotes masal, hanya ada sekitar 10 orang. And the test really killed me! Semua isinya tentang gambar menggambar. Tentu saja saya menyerah di awal. Lulus mata kuliah menggambar teknik aja sudah merupakan keajaiban yang yang terus syukuri sampai sekarang, lah ini psikotes menggambar. Saya ingat sekali disuruh menggambar orang. Awalnya hanya kepala, kemudian disuruh menggambar tangan, kaki, rambut, pakaian, dan sebagainya dengan perintah bertahap. Setelah gambar komplit, kami kemudian diperintahkan untuk mendeskripsikan orang yang kami gambar, apa yang sedang mereka lakukan, dana apa pekerjaan mereka. Desperate, saya hanya bilang “orang stress baru meninggal”! hahaaa…apalah yang harus saya deskripsikan dari gambar orang yang tangannya hanya segi empat, mulutnya hanya garis lengkung senyum, dan rambut yang awut-awutan… hasilnya, tentu saja saya dipastikan tidak lulus!

Setelah kembali hidup dalam kenyataan bahwa mendapat kerja di pabrik adalah suatu hal yang hampir mustahil, saya akhirnya memilih untuk mengajar di SMA tempat saya belajar dulu. Saya mengajar kimia untuk anak-anak kelas 2 dan mengajar tambahan Bahasa Inggris di sore hari. And I should tell you, it was all so fun… Gajinya memang tidak seberapa, hanya untuk jajan sehari-hari. Tapi kebahagian yang didapat menggantikan segalanya. Selain mengajar di kelas, selama mengajar di SMA saya bisa bermain-main lagi di perpustakaan dan menggunakan fasilitas internet sekolah untuk sekedar cek email atau friendsteran..lumayanlah …. dan oh, kantin di SMA itu makanannya enak-enak, harga terjangkau..I was beyond happy

Selama mengajar di SMA, nyaris saya tidak pernah pergi kemana-mana. Selain mengajar, kesibukan saya di waktu weekend adalah mengurus pengajian pemuda di desa tempat saya tinggal. Dari satu rapat ke rapat lain, sampai safari pengajian di beberapa masjid yang berbeda di desa saya. Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

Pict courtesy of jadwalbis.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s