Edisi Jogja 2002-2007: Dimulai dari Cirebon diakhiri di Cirebon (1)

From Sukabumi to Jogja, via Cirebon

Setelah 2 bulan nganggur di rumah, akhirnya saya daftar SPMB dan keterima di Teknik Kimia UGM. Kenapa teknik kimia? karena saya suka kimia dan rasanya keren kalau masuk teknik. Kenapa bukan ITB atau UI? ah itu pertanyaan beribu-ribu orang yang saya temui di sepanjang perjalanan mudik rutin saya, antara Jogja-Sukabumi. Alasan saya simple, ga mau hidup di Bandung atau Jakarta karena mahallll… Tapi sepertinya tekim UGM ini pilihan yang sangat tepat. Selain mendapatkan ilmu tekim, ilmu hidup yang saya dapatkan jauh lebih banyak. and I am so grateful for that

Keluarga saya terdiri dari banyak anak dengan berbagai perilaku, dan kedua orang tua yang sangat santai. Ketika pengumuman diterima di tekim UGM, kami dalam kondisi keuangan yang kurang baik (hahaa..tidak baik sebenernya, hanya sedikit eufeumisme). Tanpa tau syarat-syarat apa saja dan berapa besar uang kuliah yang harus dibayar, saya dan Bapak akhirnya berangkat bersama ke Jogja, via Cirebon (hehe Cirebon lagi). Saya hanya membawa beberapa helai baju dan uang sekitar 1 juta (sudah termasuk untuk ongkos dan bayar kuliah). Dari Sukabumi kami berangkat siang dan sampai di Cirebon malam hari. Istirahat sebentar di rumah kakak kemudian sekitar jam 11 malam berangkat ke terminal Cirebon dan mencari bis ke Jogja. Back then belum ada internet dan kami belum mampu membeli handphone, jadi informasi sangat terbatas. Dan ternyata terminal Cirebon dipenuhi dengan calo-calo yang sangat ganas. Ketika tau kami akan ke Jogja, semua orang menawarkan bantuan, dan meminta bayaran yang tinggi! ah si emang, kalau saja mereka tau kami pas-pas-an. Untuk menghindari para calo yang semakin beringas, kami mencegat bis di luar terminal. terimakasih pak penjaga pos dllaj atas sarannya. naiklah kami bis jurusan Magelang karena tidak ada bis langsung jurusan Jogja. Sampai di Magelang menjelang Subuh dilanjutakn perjalanan dengan bis ke terminal Jombor Jogja. Perjalanan panjang Sukabumi-Jogja dengan berganti-ganti bis ini, dengan ditemani Bapak saya ini, adalah salah satu perjalanan terindah dalam hidup saya. Tak bisa digambarkan betapa nyamannya bisa tidur bersandarkan pundak Bapak selama perjalanan lebih dari 12 jam ini. Yah, walaupun komentar aneh saya muncul: pak, gimana kalo orang2 nyangka saya jalan sama om2? wehehheee, kalau ini sepertinya karena sering menonton sinetron atau telenovela.

Sampai di Jogja kami ke Gedung pusat (atau sekitarnya saya ga terlalu ingat) dan disarankan untuk pergi ke tempat daftar ulang. Waktu itu masih disekitar mbarek. Kami sempat makan siang di kantin mbarek dan karena menurut bapak harganya cukup murah, beliau menyarankan saya untuk makan disana seterusnya, tanpa tau kampus saya di sebelah mana. Setelah mengantri cukup lama, akhirnya kami tau bahwa uang yang kami bawa kurang (sangat kurang, hahaaa) dan ada beberapa dokumen tambahan yang harus disubmit. Setelah berkeliling sebentar ke kampus teknik dan tekim, kami akhirnya kembali lagi ke Cirebon. Saya menunggu kakak dari Sukabumi yang membawa tambahan uang untuk registrasi, menginap semalam di Cirebon, dan kembali lagi ke Jogja, sendirian! Bapak kembali pulang dan saya mengawali perjalanan panjang saya menaklukan Jogja, sendiri. Pada malam itu, dengan bekal uang yang cukup hanya untuk membayar registrasi…wohooooo

Saya ingat setiap detail dari perjalanan ini bukan karena uang registrasi yang kurang, tapi karena ini adalah perjalanan jauh pertama dan terkahir saya bersama bapak. Allah memberikan kesempatan yang sangat indah bagi kami untuk menikmatinya. Bapak mengantarkan saya untuk memulai perjuangan “perih” saya di Jogja, walaupun Allah memanggilnya jauh sebelum Bapak bisa menjemput saya dari Jogja. and I am sure, he was so happy and proud of me at that very moment.

Dalam perjalanan Cirebon-Jogja yang kedua kalinya, yang tanpa ditemani Bapak, saya tidak mendapat tempat duduk yg layak di bis, ah tapi ternyata sangat menyenangkan. Saya akhirnya duduk di kursi kodnektur disamping pak Supir. Jangan membayangkan sopir2 genit dan galak karena pak supir ini sangat keren dan baik hati. Awalnya yg duduk di kusri kondektur itu adalah anaknya yg kuliah di UNDIP, tapi karena ada saya, anaknya pindah ke tempat tidur bagian atas belakang bis. Si Bapak banyak bercerita dan setelah tau saya kuliah di UGM dan saya dari Cibadak, beliau semakin banyak bercerita dan akhirnya berkata: Ya Allah neng, gimana rasanya? duh gimana orang tua, pasti bangga yah? pasti bahagia da bapaknya, putrinya keterima di tekim UGM, Alhamdulillah…

Selain menemukan teman bercerita yang menyenangkan, saya mendapat bonus di perjalanan kali ini. Saya kebagian tugas untuk mengangkat tanda mau lewat (di bis malam biasanya ada semacam signal yang harus diberikan di beberapa tempat kalau mau lewat), kebagian tugas bayar retribusi, dan ditraktir makan bersama pak supir di rumah makan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s